Artikel

IKAN GABUS: KEKAYAAN PERAIRAN LOKAL CEGAH STUNTING MELALUI MPASI

IKAN GABUS KEKAYAAN PERAIRAN LOKAL CEGAH STUNTING MELALUI MPASI
Artikel / Pengolahan Hasil Perikanan / Perikanan

IKAN GABUS: KEKAYAAN PERAIRAN LOKAL CEGAH STUNTING MELALUI MPASI

Loading

Ikan gabus (Channa striata) bukan sembarang ikan. Kandungan proteinnya tergolong tinggi, berkisar 25–27%, dengan kadar albumin sekitar 5% yang merupakan senyawa penting untuk pertumbuhan dan pemulihan jaringan tubuh anak. Ikan ini juga kaya asam amino esensial, zat besi, dan seng yang berperan mencegah risiko kekerdilan. Ketersediaannya yang melimpah di berbagai perairan Indonesia, seperti Aceh dan Sumatera Utara, menjadikan ikan gabus sebagai bahan pangan strategis yang mudah diperoleh dan berkelanjutan.

Dari Kolam menuju Piring Bayi

Formulasi Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) instan kering memiliki beberapa variasi penambahan ikan gabus. Berikut poin-poin temuan utamanya:

  • Semakin banyak ikan gabus, semakin tinggi gizinya. Kadar protein naik dari 7,6% menjadi 12,7%, diikuti kenaikan kadar lemak dan abu. Sebaliknya, kadar air dan karbohidrat menurun seiring berkurangnya proporsi beras dalam adonan.
  • Memenuhi standar WHO. Seluruh formulasi MPASI yang dihasilkan memenuhi standar minimal WHO, yaitu kadar protein minimal 6 per 100 gram bahan kering, menandakan produk ini layak sebagai intervensi gizi.
  • Proses pengolahan sederhana namun terstandar. Ikan gabus dikukus dan dihaluskan, dicampur beras serta sayuran (wortel dan bayam), lalu dikeringkan pada suhu 60°C selama 6–8 jam hingga kadar air di bawah 5%, menghasilkan bubuk instan yang tahan simpan dan mudah diseduh kembali dengan air hangat.

Peluang di Balik Piring

Formulasi ikan gabus dinilai ideal untuk menyeimbangkan nilai gizi tinggi dengan cita rasa yang masih diterima anak-anak. Lebih dari sekadar solusi gizi, inovasi ini juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha kecil menengah di daerah perairan darat serta mengubah komoditas ikan air tawar lokal menjadi produk pangan fungsional bernilai tambah.

Riset ini menegaskan satu hal penting: solusi mengatasi stunting tidak harus datang dari bahan pangan mahal atau impor. Kadang, jawabannya justru berenang di sungai, rawa, dan kolam di halaman belakang sendiri.

Penulis & Editor: Jonathan Octo Ricardo Marpaung

Tanya Pakar

powered by Advanced iFrame