Artikel

PLANKTON: MAKHLUK SEKECIL DEBU PENYEIMBANG EKOSISTEM LAUT

PLANKTON MAKHLUK SEKECIL DEBU PENYEIMBANG EKOSISTEM LAUT
Artikel / Biota Air Tawar dan Laut / Budidaya Perikanan / Perikanan / Perikanan Tangkap

PLANKTON: MAKHLUK SEKECIL DEBU PENYEIMBANG EKOSISTEM LAUT

Loading

Bayangkan segelas air laut. Tampak bening, kosong, tak ada apa-apa. Padahal di dalamnya bisa melayang ribuan makhluk hidup yang sedang bekerja tanpa henti. Mereka adalah plankton, organisme mikroskopis yang diam-diam menopang kehidupan di laut, sungai, hingga waduk, bahkan setiap tarikan napas kita.

Dapur Raksasa di Dasar Rantai Makanan

Plankton terbagi menjadi dua, yaitu fitoplankton (golongan tumbuhan) dan zooplankton (golongan hewan). Fitoplankton adalah “juru masak” utama perairan. Lewat fotosintesis, mereka mengubah cahaya matahari menjadi energi yang menghidupi zooplankton, larva ikan, hingga predator di puncak rantai makanan. Bonusnya, mereka melepaskan oksigen dalam jumlah besar, sebagian besar bahkan ikut menyuplai oksigen dunia.
Zooplankton lalu menyambung estafet. Mereka memangsa fitoplankton, kemudian dimangsa ikan kecil dan larva. Tanpa mata rantai ini, aliran energi di perairan akan terputus. Plankton juga menyerap karbon dioksida, sehingga turut meredam efek rumah kaca.

Indikator Kesehatan Perairan

Perairan dengan konsentrasi klorofil-a tinggi umumnya memiliki tingkat kesuburan yang tinggi, karena menunjukkan biomassa fitoplankton yang besar sebagai produsen primer. Kelimpahan fitoplankton yang tinggi biasanya menandakan nutrien seperti nitrogen dan fosfor tersedia cukup. Sebaliknya, pergeseran jenis plankton bisa menjadi alarm dini adanya pencemaran atau eutrofikasi. Karena itu, plankton dipakai sebagai bioindikator kesehatan perairan.
Di tambak udang vaname, keragaman plankton yang baik berkaitan erat dengan pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang. Di laut, plankton yang melimpah bisa menjadi petunjuk lokasi potensi penangkapan ikan.

Biota Kecil Penggerak Ekonomi Perikanan

Plankton memang tidak diperdagangkan, tetapi nilai ekonominya nyata. Perairan kaya plankton menyediakan pakan alami bagi larva dan ikan kecil yang kelak menjadi stok ikan komersial.
Bagi nelayan, peta sebaran plankton membantu menentukan lokasi tangkap sehingga bahan bakar dan waktu melaut lebih hemat. Fenomena upwelling, yaitu naiknya nutrien dari dasar laut ke permukaan, kerap memicu ledakan fitoplankton, lalu disusul zooplankton, ikan pelagis kecil, dan ikan-ikan bernilai tinggi.
Bagi pembudidaya, plankton adalah pakan alami larva ikan dan udang di fase awal, saat pencernaan mereka belum siap menerima pakan buatan. Petambak yang piawai mengelola plankton lewat pemupukan, aerasi, dan kualitas air berpeluang memanen lebih banyak dengan biaya pakan lebih efisien.

Iklim yang Berubah Membuat Plankton Bergeser

Fitoplankton menghasilkan senyawa dimethyl sulphide (DMS) yang berperan dalam pembentukan awan, sehingga ikut memengaruhi iklim. Sebaliknya, perubahan suhu, curah hujan, dan intensitas upwelling dapat menggeser sebaran dan produktivitas plankton, dengan dampak pada stok ikan dan ketahanan pangan.
Tantangannya kini adalah menjaga keseimbangan komunitas plankton di tengah pencemaran, eutrofikasi berlebih, dan perubahan habitat. Pemantauan rutin serta pemanfaatan data plankton dalam model prediksi produktivitas perikanan menjadi langkah penting menuju pengelolaan perikanan berkelanjutan.

Plankton merupakan pondasi kehidupan perairan, penanda kesehatan lingkungan, bahkan sekaligus penopang ekonomi perikanan. Menjaganya berarti menjaga masa depan sumber daya laut dan pangan jutaan orang yang bergantung padanya. Apa yang bisa dilakukan untuk menjaganya?

Di sektor rumah tangga
  • Tidak membuang sampah, terutama plastik, ke sungai, pantai, atau laut. Mikroplastik dapat tertelan zooplankton dan mengganggu rantai makanan sejak dari dasarnya.
  • Membuang limbah cair rumah tangga dengan benar. Deterjen berfosfat dan limbah organik yang langsung masuk ke sungai memicu eutrofikasi, yaitu ledakan fitoplankton berlebih yang akhirnya menghabiskan oksigen.
  • Mengurangi jejak karbon (hemat energi, memilih transportasi ramah lingkungan), karena pemanasan dan pengasaman laut ikut mengubah komunitas plankton.
Di sektor pertanian dan budidaya
  • Memakai pupuk secukupnya, karena sisa nitrogen dan fosfor dari sawah dan kebun akan terbawa aliran air ke perairan.
  • Bagi petambak, mengelola pakan agar tidak berlebih, memasang tandon pengolahan limbah (IPAL) sebelum air tambak dibuang, dan menjaga keseimbangan plankton lewat pemupukan, aerasi, dan pemantauan kualitas air secara rutin.

Pada akhirnya, plankton tidak dijaga dengan “merawatnya” secara langsung melainkan dengan menjaga agar air tempat mereka hidup tetap bersih dan seimbang.

Penulis & Editor: Jonathan

Tanya Pakar

powered by Advanced iFrame