Artikel

KENAPA TANAMAN TERUNG MENGUNING?

eggplant-g4586b3c51_1920
Artikel / Hama dan Penyakit Tanaman / Pertanian

KENAPA TANAMAN TERUNG MENGUNING?

Gejala serangan dan kerusakan pada terung berupa daun yang menguning. Hal ini diawali dengan bintik-bintik menguning pada daun. Gejala bisa berlanjut hingga menyebabkan daun melengkung ke atas pada bagian tepinya. Pelengkungan daun ini disebabkan keterlambatan perkembangan daun.

Jika serangan sudah berat, gejala ini menyebabkan daun menguning, kemudian menjadi cokelat dan kering seperti terbakar (hopperburn). Dalam 24 jam infestasi, proses fotosintesis, transpirasi, dan transpor dari floem sudah terganggu, serta terjadi akumulasi pati pada daun.

Foto: Niky Elfa Amanatillah
Foto: G Brust

Penyebab menguningnya terung yaitu adanya spesies Empoasca yang umum ditemui pada tanaman terung, Empoasca decipiens, E. flavescens, E. fabae, dan E. solana. Serangga ini menusuk daun dan mengisap sap dari floem tumbuhan. Bagian yang sering diserang biasanya adalah permukaan bawah daun. Tusukan hama tersebut yang menimbulkan gejala hopperburn.

Foto: Robert Webster

Wereng Empoasacasp. berukuran kecil, dengan panjang sekitar 1-3 mm, berwarna hijau dengan tubuh ramping meruncing, dan sayap transparan. Serangga dewasa (imago) melompat pergi saat diganggu. Nimfa Empoasca sp. berbentuk seperti imago, tetapi tidak memiliki sayap. Nimfa Empoasca bergerak aktif dan berlari menyamping saat diganggu. Perkembangan nimfa selesai sekitar 14 hari.

Telur diletakkan di bagian bawah permukaan daun. Betina Empoasca sp. mulai bertelur sekitar 6-7 hari setelah nimfa terakhir berganti kulit. Serangga ini dapat hidup selama beberapa bulan dan dapat bertelur 200-300 telur selama hidupnya. Pada E. decipiens durasi penetasan telur tersingkat tercatat pada suhu 35°C. Namun, jumlah nimfa terbanyak terdapat pada suhu 24°C. Suhu berpengaruh signifikan terhadap waktu perkembangan nimfa dengan waktu perkembangan tiga kali lipat lebih lama pada suhu 15°C dibandingkan suhu ⩾28°C.

Pada tanaman terung perkembangan nimfa adalah 12,5 hari. Serangga ini biasanya berkumpul dalam kelompok pada daun ketika kepadatan populasinya tinggi, tetapi akan menyebar secara acak ketika populasinya rendah. Wereng Empoasca termasuk serangga diurnal. Aktivitas wereng dimulai pada pagi hari sekitar pukul 08.00 dan secara bertahap meningkat ke maksimum pada tengah hari. Waktu aktivitas serangga dapat berubah tergantung pada lokasi geografis.

Foto: pikul.lib.ku.ac.th
Foto: Penn State College of Agricultural Science

Serangga Empoasca spp. merupakan hama polifag. Hama ini memiliki kisaran inang yang sangat luas, sehingga memiliki banyak inang alternatif, baik dari tanaman budi daya (seperti kentang, kacang tanah, kedelai, ubi jalar, dan sebagainya), maupun tanaman liar (gulma).

Gulma dapat memengaruhi tingkat infestasi, distribusi, maupun reproduksi hama ini. Hama dapat bertahan pada tanaman gulma sebagai inang alternatif. Beberapa gulma yang dapat menjadi tanaman inang hama ini antara lain bayam-bayaman (Amaranthus sp.), jombang/dandelion (Taraxacum officinale), rumput karpet (Mollugo verticillata), dan Polygonum sp..

Foto: M. Klinkon

Perkembangan serangga dipengaruhi oleh kelembaban, suhu, serta tanaman inang. Wereng Empoasca lebih menyukai tanaman yang daunnya tidak memiliki trikoma, memiliki jaringan lunak, dan berukuran besar. Serangga Empoasca lebih menyukai varietas tanaman yang besar untuk oviposisi. Salah satu spesies, E. decipiens, imago secara signifikan lebih menyukai tanaman yang lebih tua dibandingkan dengan tanaman muda.

Iklim tropis di Indonesia menyediakan kondisi yang sesuai untuk perkembangan hama ini sepanjang tahun. Hama ini tidak perlu melakukan migrasi dan diapause untuk menghindari musim dingin. Migrasi hama ini dibantu oleh angin. Fluktuasi curah hujan memiliki korelasi yang rendah dengan kepadatan populasi. Sementara, kepadatan populasi tercatat meningkat seiring meningkatnya temperatur dan menurunnya kelembaban relatif.

Suhu optimal untuk perkembangan populasi adalah sekitar 24°C. Suhu yang lebih hangat mempercepat waktu penetasan telur dan perkembangan nimfa. Kenaikan suhu berkorelasi positif secara signifikan terhadap tingkat keparahan serangan.

Wereng Empoasca berkembang biak dengan cepat selama musim kering dan dapat menyebabkan kerusakan parah.Empoasca sp. menyebabkan kerusakan vegetatif dan generatif yang memengaruhi hasil panen. Nimfa dapat mengurangi hasil panen lebih dari dua kali lipat jumlah yang sama dari jumlah serangga dewasa.

Penulis: Widodo, Hermanu Triwidodo, Niky Elfa Amanatillah | Editor: Exciyona Adistika

Konsultasi

    X