Artikel

CARA PENGENDALIAN VIRUS KENTANG Y (PVY) PADA TANAMAN CABAI (BAGIAN 3)

chili-gea89dbac7_1920
Artikel / Hama dan Penyakit Tanaman / Pertanian

CARA PENGENDALIAN VIRUS KENTANG Y (PVY) PADA TANAMAN CABAI (BAGIAN 3)

Pengendalian penyakit akibat infeksi virus Kentang Y (PVY)dapat dilakukan secara mekanis, kultur teknis, serta biologis. Hal tersebut dilakukan sebagai pencegahan (strategi preventif), maupun secara kimiawi yang dilakukan sebagai cara pengendalian terakhir sebagai strategi kuratif. Pengendalian yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Penggunaan benih sehat

Benih yang sehat akan menghasilkan tanaman dengan pertumbuhan yang baik. Tanaman yang sehat memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap hama dan penyakit.

  • Pengelolaan intensif pada pembibitan

Pengelolaan yang baik pada saat pembibitan dapat menghindarkan tanaman terinfeksi virus saat masih bibit. Tempat persemaian disungkup dengan kelambu dari kain kasa atau plastik yang dilubangi untuk menghindari infestasi kutu daun. Pemilihan tempat persemaian diutamakan yang jauh dari lahan yang sudah terinfestasi penyakit.

  • Pemasangan sticky trap

Pemasangan sticky trap mampu membantu mengurangi populasi kutu daun. Sticky trap berwarna kuning dan berbentuk persegi panjang lebih efektif menangkap kutu daun dibandingkan sticky trap dengan warna dan bentuk lain. Selain sebagai metode pengendalian, pemasangan sticky trap juga digunakan untuk memantau populasi hama di pertanaman. Sticky trap yang digunakan berjumlah 2 buah per 500 m2 dan dipasang pada saat tanaman cabai berumur 2 minggu.

Foto: indiamart.com
  • Penggunaan mulsa reflektif

Pemasangan mulsa plastik yang berwarna reflektif seperti warna perak terbukti dapat mengendalikan kutu daun sebagai vektor PVY. Warna yang reflektif pada mulsa dapat memantulkan sinar matahari yang mengganggu serangga vektor. Mulsa juga berfungsi untuk menghalangi gulma tumbuh di pertanaman.

Foto: Widodo (Dewan Pakar Tani Center IPB University)
  • Penanaman tanaman pagar/penghalang

Tanaman tertentu dapat digunakan sebagai tanaman pagar untuk mencegah kutu daun ke pertanaman, seperti tanaman jagung atau sorgum. Tanaman penghalang (barier) dengan tanaman jagung yang rapat dapat membantu mengurangi migrasi kutu daun. Tanaman jagung selain bermanfaat sebagai penghalang fisik masuknya kutu daun ke pertanaman juga dapat berfungsi sebagai inang bagi serangga predator kutu daun, seperti kumbang Menochilus sexmaculatus.

Dengan adanya tanaman jagung di sekeliling pertanaman dapat melestarikan dan meningkatkan musuh alami yang telah ada dengan memanipulasi lingkungan, sehingga menguntungkan kemampuan bertahan hidupnya. Penanaman jagung dilakukan lebih awal, sekitar 3 hingga 4 minggu sebelum tanaman cabai.

  • Sanitasi gulma

Beberapa gulma dapat menjadi inang alternatif PVY, yang dapat menjadi sumber inokulum di pertanaman. Sanitasi lahan dengan menyiangi gulma dilakukan secara teratur sesuai kondisi lahan atau minimal seminggu sekali. Gulma yang terinfeksi virus dikubur di luar pertanaman atau dibakar.

  • Eradikasi tanaman sakit

Infeksi virus pada tanaman bersifat sistemik, sehingga keseluruhan bagian tanaman sakit dapat menjadi sumber inokulum virus di pertanaman. Tanaman yang menunjukkan gejala segera dicabut dan dimusnahkan supaya tidak menjadi sumber penularan ke tanaman lain yang sehat. Tanaman yang bergejala dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur di luar pertanaman serta dapat diganti dengan tanaman yang sehat.

  • Air yang cukup dan pemupukan berimbang

Tanaman akan tumbuh dengan baik jika kebutuhan air dan unsur hara tercukupi. Tanaman akan tumbuh sehat, sehingga memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap hama dan penyakit.

  • Pengaturan waktu tanam

Pengaturan waktu tanam dapat dilakukan dengan menanam lebih awal atau menunda waktu tanam. Pengaturan waktu tanam dapat menghindari periode migrasi dan serangan kutu daun yang lebih besar. Pengaturan waktu tanam juga dapat menghindari waktu tanam yang tidak serempak pada hamparan lahan (tumpang tindihnya waktu tanam) serta mengatur periode tidak adanya tanaman inang kutu daun. Penanaman dapat dilakukan lebih awal secara serentak pada satu hamparan.

  • Rotasi tanaman

Menghindari penanaman tanaman yang sama dan melakukan penanaman bergilir dengan tanaman noninang dapat dilakukan untuk mencegah insidensi penyakit di musim tanam selanjutnya. Tanaman noninang yang dapat digunakan untuk rotasi tanaman, antara lain bawang-bawangan, jagung, dan sorgum.

  • Tumpang sari cabai dengan bawang daun

Budi daya dengan sistem tumpang sari dapat meningkatkan keberagaman tanaman pada lahan, sehingga lebih ramah secara ekologis. Bawang daun dapat mengganggu indra penciuman kutu daun M. persicae. Tumpang sari antara cabai merah dengan bawang daun dapat mengurangi kerusakan yang terjadi dibandingkan dengan sistem monokultur.

  • Konservasi musuh alami

Kutu daun, termasuk M.persicae dan A. gossypii, memiliki musuh alami baik predator maupun parasitoid. Predator kutu daun antara lain Menochilus sp., Micraspis sp., dan Coccinella sp., sedangkan parasitoidnya antara lain Aphelinus sp., Aphidius sp., Allothrombium sp., dan Lipolexis sp.. Konservasi dilakukan dengan tidak membunuh musuh alami di pertanaman sehingga dapat mengendalikan populasi kutu daun secara alami. Penggunaan pestisida secara berlebihan perlu dihindari untuk menjaga populasi musuh alami di pertanaman. Konservasi juga dapat dilakukan dengan memanipulasi lingkungan, seperti menamam tanaman jagung yang dapat menjadi habitat predator kumbang koksi Menochilus sexmaculatus. Predator ini memiliki daya cari mangsa tinggi, mencapai 0,8 ekor/jam dan mampu menemukan mangsa di seluruh permukaan tanaman. Pelepasan predator M. sexmaculatus menunjukkan keefektifan pengendalian yang setara dengan aplikasi insektisida lamda sihalotrin.

Foto: keramaislands.asia
  • Aplikasi cendawan entomopatogen sebagai biopestisida

Spesies cendawan yang umum digunakan adalah Lecanicilliumlecanii, Bauveria bassiana, Paecilomycesfumosoroseus, dan Metarhizium anisopliae. Selain dari produk yang sudah dijual bebas, cendawan entomopatogen bisa didapatkan di pertanaman dengan mengoleksi bangkai serangga yang mati terinfeksi kemudian diperbanyak. Cendawan B. bassiana merupakan entopatogen terbaik untuk mengendalikan kutu daun A.gossypii. Aplikasi B. bassiana dengan 5×107 cfu/ml efektif dalam mengendalikan mortalitas nimfa kutu daun A. gossypii dengan kemampuan mengendalikan hingga 77,71%. Secara umum, aplikasi cendawan dapat dilakukan setiap hari, pengendalian lebih efektif dengan frekuensi aplikasi lebih sering dan jumlah lebih banyak.

Foto: koppert.com
  • Penggunaan PGPR

Aplikasi PGPR dapat dilakukan sebagai perlakuan benih, dicampurkan ke dalam tanah untuk pembibitan, atau saat pindah tanam. PGPR mengandung bakteri Pseudomonas fluorescens dan Bacillus sp., dan dapat menekan insidensi penyakit melalui mekanisme induksi ketahanan secara sistemik atau menghasilkan hormon tumbuh.

  • Penggunaan sabun cair

Sabun cair dapat digunakan sebagai cara pengendalian. Sabun sebagai insektisida efektif digunakan untuk mengendalikan hama serangga kecil bertubuh lunak, seperti tungau, thrips, kutu daun, dan kutu kebul, tanpa mengganggu populasi serangga bermanfaat. Aplikasi sabun membuat serangga mati lemas, dehidrasi, menghilangkan lilin dari kutikula serangga, dan mengganggu membran sel.

Sabun cair yang digunakan merupakan sabun cair yang lembut, konsentrasi yang digunakan adalah 1,5–2 cc/liter. Kombinasi aplikasi sabun cair dan insektisida nabati maupun kimiawi dapat meningkatkan efektivitas insektisida.

  • Aplikasi insektisida nabati

Insektisida nabati yang dapat menekan populasi kutu daun, antara lain ekstrak nimba, bawang putih, dan babadotan. Penggunaan insektisida nabati dapat ditambahkan dengan surfaktan (bahan perekat) agar lebih efektif. Aplikasi ekstrak babadotan dengan konsentrasi 44% ditambah surfaktan dengan konsentrasi 0,05% efektif mengendalikan kutu daun M. persicae dengan persentase kematian 73,33%.

Selain itu, aplikasi insektisida nabati juga dapat dikombinasikan dengan penggunaaan sabun cair agar efektivitasnya meningkat. Aplikasi insektisida nabati perlu dilakukan secara berkala karena daya bunuh yang lebih rendah dibandingkan insektisida kimia.

  • Proteksi silang

Proteksi silang atau imunisasi merupakan metode perlindungan tanaman menggunakan strain lemah virus untuk melindungi tanaman dari superinfeksi virus strain ganas.  Proteksi silang dilakukan dengan menginokulasi vaksin CARNA 5.1 dan CARNA 5.2 dapat menghambat infeksi PVY. Inokulasi vaksin sebagai agens proteksi silang dilakukan seawal mungkin sebelum terjadi infeksi oleh virus strain ganas.

  • Pengendalian dengan bahan kimia sintetik dapat dilakukan dengan aplikasi insektisida untuk menekan populasi vektor.

Bahan aktif insektisida yang dapat digunakan pada tanaman cabai, antara lain abamektin, dimetoat, metomil, imidakloprid, emamektin benzoat, dan  lamda sihalotrin. Penggunaan insektida kimia harus dilakukan secara bijaksana, menggunakan dosis yang tepat, dan melakukan rotasi bahan aktif untuk mencegah terjadinya resistensi, resurgensi, dan hilangnya musuh alami.

Penulis: Widodo, Hermanu Triwidodo, dan Niky Elfa Amanatillah | Editor: Exciyona Adistika

Konsultasi

    X