IPB UNIVERSITY PERKUAT JEJARING PETANI, NELAYAN, DAN AKADEMISI GLOBAL UNTUK MEMPERKUAT ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM
IPB UNIVERSITY PERKUAT JEJARING PETANI, NELAYAN, DAN AKADEMISI GLOBAL UNTUK MEMPERKUAT ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM
![]()
DIGITANI.IPB.AC.ID, Bogor (21/04) – Dampak perubahan iklim semakin terasa di sektor pertanian dan pesisir. Cuaca ekstrem, musim yang tidak menentu, kekeringan, dan kenaikan suhu mengganggu produksi pertanian serta tangkapan nelayan. Berdasarkan Buku Putih Survei Persepsi Petani 2024, sebanyak 77,6% petani mengalami penurunan hasil akibat perubahan iklim. Melihat urgensi ini, IPB University menggelar Global Network for Advanced Agromaritime (GNAA) untuk membangun jejaring antara petani, nelayan, dan akademisi dalam upaya memperkuat aksi adaptasi perubahan iklim.
Dr. Roza Yusfiandayani, Ketua Panitia GNAA, menekankan pentingnya solidaritas internasional antara petani dan nelayan dalam mengatasi dampak perubahan iklim, terutama melalui praktik kearifan lokal di masing-masing negara.
“Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang dihadapi setiap hari oleh para petani dan nelayan. Melalui jejaring internasional ini, kami ingin memperkuat ketahanan sektor pertanian dan perikanan berbasis kearifan lokal dalam menghadapi perubahan iklim. Hal ini penting untuk menunjang ketahanan pangan dan keberlanjutan sektor agromaritim,” ujar Roza.
Kegiatan yang diikuti oleh petani, nelayan, dan akademisi dari tujuh negara ini memberikan ruang untuk bertukar pengalaman dan pengetahuan dalam menjawab tantangan ketahanan pangan lintas negara. Hal ini disampaikan oleh Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LP2AI) IPB University, Dr. Handian Purwawangsa.
“Kolaborasi ini membuka ruang untuk bertukar pengalaman dalam mengatasi tantangan ketahanan pangan lintas negara. Dengan semangat regional dan kearifan lokal, kita optimistis akan semakin kuat menghadapi tantangan di sektor agromaritim,” kata Handian.
Kegiatan ini juga menjadi momentum peluncuran Buku Putih Perubahan Iklim, yang merupakan dokumen strategis berisi pemikiran kolektif para pelaku sektor agromaritim dalam menghadapi krisis iklim global.
Dr. Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University, dalam sambutannya menyatakan komitmen IPB dalam penguatan riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat. IPB menyediakan wadah kolaborasi internasional ini untuk memperkuat peran pelaku agromaritim, terutama petani, nelayan, dan akademisi, dalam menghadapi tantangan global.
“IPB berkomitmen untuk meningkatkan riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat di sektor agromaritim. Ruang ini dibangun sebagai wahana kolaborasi dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, geopolitik, dan resesi ekonomi dengan tetap mengedepankan kearifan lokal,” ujar Alim.
Parjiyem, perwakilan perempuan petani dari Kabupaten Gunungkidul, menyampaikan bahwa tantangan perubahan iklim yang dihadapi petani di lapangan semakin berat. Forum pertukaran pengalaman antarpetani lintas negara ini menjadi ruang saling belajar dan saling menguatkan.
“Sekarang bertani semakin sulit. Cuaca semakin tidak menentu, kesuburan tanah menurun, dan air semakin sulit didapat. Saya ingin bertukar pengalaman dengan petani dari negara lain, bagaimana cara mereka mengatasi kondisi ini,” kata Parjiyem.
Kolaborasi lintas negara ini juga ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama antara petani, nelayan, dan akademisi dalam menjalankan kerja kolaboratif di sektor agromaritim.