Artikel

CARA PENGENDALIAN TANAMAN TERUNG YANG MENGUNING

eggplant-g4586b3c51_1920
Artikel / Hama dan Penyakit Tanaman / Pertanian

CARA PENGENDALIAN TANAMAN TERUNG YANG MENGUNING

Jika populasi wereng Empoasca rendah, pengendalian secara kimiawi tidak perlu dilakukan. Namun, dapat dilakukan pengendalian secara fisik, mekanis, kultur teknis, serta biologis sebagai pencegahan (strategi preventif). Pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengatasi wereng Empoasca sp. pada terung, yaitu:

Pengendalian Fisik

  • Penggunaan mulsa. Mulsa dengan warna mengilap yang memantulkan cahaya matahari seperti warna perak dapat mencegah wereng masuk ke pertanaman, terutama saat tanaman masih muda.
Foto: Widodo (Dewan Pakar Tani Center IPB University)

Pengendalian Mekanis

  • Pemasangan sticky trap. Pemasangan sticky trap warna hijau dan kuning pada ketinggian 40–60 cm di atas kanopi tanaman terbukti lebih efektif menangkap E. flavecens yang dapat ditemui di tanaman terung. Selain sebagai metode pengendalian, pemasangan sticky trap berguna untuk pemantauan serangga di pertanaman.
Foto: indiamart.com

Pengendalian Kultur Teknis

  • Pemupukan berimbang. Pemupukan diduga berpengaruh pada infestasi wereng Empoasca. Penambahan dosis nitrogen dan fosfor yang berlebihan mengakibatkan infestasi menjadi lebih berat, sedangkan peningkatan dosis kalium mengakibatkan infestasi lebih ringan.
  • Penanaman lebih awal. Tanaman yang ditanam pada awal musim kemarau terbukti mengalami tingkat serangan yang lebih rendah.
  • Sanitasi lahan. Sanitasi lahan dengan membersihkan pertanaman dari gulma secara rutin dapat membantu menekan populasi wereng di pertanaman karena hama dapat bertahan pada tanaman gulma sebagai inang alternatif.
Foto: Tani Center IPB University
  • Rotasi tanaman. Penanaman bergilir dengan tanaman noninang dapat dilakukan untuk mencegah serangan hama di musim tanam selanjutnya. Tanaman noninang yang dapat digunakan untuk rotasi tanaman, antara lain bawang putih, bawang merah, sawi, dan padi.

Pengendalian Biologi

  • Konservasi musuh alami. Parasitoid telur Anagrus atomus, predator minute pirate (Orius spp.) dan laba-laba secara umum merupakan musuh alami hama ini. Parasitoid A. atomus dapat memarasit berbagaiumur telur, tetapi telur yang masih muda lebih disukai parasitoid ini. Konservasi cukup dilakukan dengan tidak membunuh musuh alami di pertanaman sehingga dapat mengendalikan populasi Empoasca secara alami.
Foto: Heather Andrews and Tom Kuhar
Foto: flickriver.com
  • Aplikasi cendawan entomopatogen sebagai biopestisida. Spesies cendawan yang umum digunakan adalah Lecanicillium lecanii, Bauveria bassiana, Paecilomyces fumosoroseus, dan Metarhizium anisopliae. Selain dari produk yang sudah dijual bebas, cendawan entomopatogen mudah didapatkan di pertanaman dengan mengoleksi bangkai serangga yang mati terinfeksi, kemudian diperbanyak. Cendawan entomopatogen dapat menyebabkan kematian nimfa hingga 60-98% 4-6 hari setelah nimfa terinfeksi. Aplikasi cendawan dapat dilakukan setiap hari. Pengendalian lebih efektif dengan frekuensi aplikasi cendawandalam jumlah lebih banyak.
Foto: koppert.com

Pengendalian Kimiawi

  • Penggunaan pestisida nabati. Pestisida nabati ekstrak nimba dapat mengendalikan wereng Empoasca pada terung. Ekstrak nimba bisa didapatkan dari produk komersial maupun buatan sendiri. Aplikasi ekstrak biji nimba (10g/l) yang disemprotkan pada interval 10 hari dapat menunjukkan efek repelen terhadap wereng Empoasca.
  • Pengendalian dengan bahan kimia sintetik dapat dilakukan dengan aplikasi insektisida berbahan aktif imidacloprid dan mercaptodimethur. Aplikasi Confidor 200SC (imidacloprid) 187,5 ml/ha dapat menekan populasi Empoasca spp. dengan tingkat efektivitas hingga 96,8%, sementara dosis 125 ml/ha memiliki tingkat efektivitas 95,4 %. Aplikasi Mesurol 50WP (mercaptodimethur) 750 g/ha menekan populasi dengan efektivitas 84,4%. Pengendalian dilakukan ketika terdapat 0.51 wereng per ayunan jaring pada tanaman terung. Aplikasi pestisida dilakukan pada pagi hari dan dapat dilakukan dengan interval waktu 6 hari. Rotasi pestisida dengan bahan aktif berbeda diperlukan untuk mencegah terjadinya resistensi hama.

Penulis: Widodo, Hermanu Triwidodo, Niky Elfa Amanatillah | Editor: Exciyona Adistika

Konsultasi

    X