Artikel

CLIMATE SMART AGRICULTURE: SISTEM KETAHANAN PERTANIAN CERDAS YANG RAMAH IKLIM

Fresh harvest vegetable from organic farm ready for delivery with copy space
Artikel / Teknologi Pertanian

CLIMATE SMART AGRICULTURE: SISTEM KETAHANAN PERTANIAN CERDAS YANG RAMAH IKLIM

Sobat Tani, tahu tidak jika sistem iklim di bumi dapat memengaruhi produktivitas lahan atau pertanian? Beberapa aktivitas manusia menghasilkan gas rumah kaca yang berlebih seperti pada pembakaran hutan, penggunaan bahan bakar fosil, dan alih fungsi lahan. Aktivitas tersebut menghasilkan gas rumah kaca yang berlebih dan menyebabkan penebalan pada atmosfer.

Lapisan atmosfer yang semakin tebal akan memerangkap sejumlah panas bumi, sehingga menyebabkan kenaikan suhu di bumi. Naiknya suhu bumi tersebut dikenal dengan pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim di bumi. Penurunan kualitas dan kuantitas air, penurunan kualitas dan kuantitas hutan, kekeringan, perubahan habitat dan spesies, kekeringan, kenaikan muka air laut, serta tenggelamnya pulau di pesisir adalah fenomena yang berkaitan dengan perubahan iklim.

Salah satu sektor kehidupan yang paling terdampak akibat perubahan iklim adalah pertanian. Food Agriculture Organization (FAO), organisasi pangan dunia, mengkhawatirkan hal ini, khususnya bagi ketersediaan pangan. Menurunnya kesuburan dan kualitas lahan menyebabkan produktivitas pertanian menurun. Penurunan produktivitas pertanian akan berdampak pada ketahanan pangan yang merupakan salah satu pilar bagi ketahanan nasional.

Dalam menghadapi ancaman ketahanan pangan tersebut, berbagai hal mulai diterapkan salah satunya adalah Climate Smart Agriculture (CSA). Sistem pertanian cerdas iklim ini merupakan bentuk sinergi antara peningkatan produktivitas lahan dan pendapatan pertanian, adaptasi, dan mitigasi terhadap perubahan iklim. Beberapa hal yang diperhatikan pada CSA adalah peningkatan produktivitas pertanian, mengajarkan budi daya pertanian yang tahan iklim, meningkatkan pendapatan petani, mengurangi risiko gagal panen, dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

Foto: pixabay.com

Saat ini, CSA telah menjadi salah satu program utama Kementerian Pertanian. CSA memiliki nilai berkelanjutan dengan mengandung unsur sosial, lingkungan, dan ekonomi. Beberapa bentuk penerapan CSA, di antaranya:

  1. Water management, dilakukan dalam mengatur ketersedian air dengan irigasi, daerah aliran sungai, air tanah, dan curah hujan yang ada. Pengaturan air ini memberikan pengaruh pada pola tanam dalam kurun waktu ke depan.
  2. Soil management atau pengaturan tanah, dilakukan dengan mengatur dosis pupuk yang dipakai pada pertanian. Dosis akan disesuaikan dengan keadaan tanah dan kebutuhan tanaman, sehingga tidak berlebihan.
  3. Crop management, merupakan pengaturan bagi komoditas tanam itu sendiri. Dilakukan dengan pemilihan dan penggunaan bibit yang unggul dan sesuai dengan kondisi tanam.

Bentuk-bentuk tersebut dapat bertambah seiring dengan penerapan CSA di masa depan. Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa daerah yang menerapkan CSA, seperti Kalimantan Tengah yang fokus pada pengurangan kebakaran hutan. Upaya tersebut meningkatkan diversifikasi peningkatan produksi pertanian dan meningkatkan hasil mata pencaharian. Dengan contoh tersebut, CSA berpotensi menjadi solusi dalam menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan produktivitas pertanian.

Penulis: Siti Zahwa Humaira | Editor: Exciyona Adistika

Konsultasi

    X