Artikel

JADI PETANI MILENIAL, IT’S MY DREAM!

countryside-g5a5708d37_1920
Artikel / Pertanian

JADI PETANI MILENIAL, IT’S MY DREAM!

Amit Kalantri mengatakan, “if the farmer is rich, then so is the nation”. Jika pertaniannya kaya, maka begitu pula bangsanya. Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang berlimpah dan sektor pertanian memegang peranan penting bagi kehidupan nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data bahwa sektor pertanian menyumbang PDB terbesar kedua dengan capaian Rp. 2,25 kuadriliun sepanjang 2021. Bahkan, sektor pertanian menjadi penyelamat perekonomian di masa pandemi Covid-19 karena pertumbuhan yang positif.

Dengan potensi sektor perekonomian yang besar, ternyata jumlah petani di Indonesia justru mengalami pemerosotan. Melansir dari BPS, jumlah petani di Indonesia pada 2019 adalah 33,4 juta dengan 91% di antaranya berusia di atas 40 tahun dan sisanya berusia 20-39 tahun. Perbandingan yang timpang ini menunjukkan penurunan pekerja pada sektor pertanian dan menjadi permasalahan yang mengkhawatirkan. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksikan pada tahun 2063 tidak ada lagi profesi petani apabila tidak ada perubahan tren. Oleh karena itu, Indonesia memerlukan para petani muda atau petani milenial yang dapat meneruskan estafet pembangunan bangsa di bidang agraria ini.

Foto: istockphoto.com

Nah Sobat Tani, apakah kalian siap untuk ikut serta? Menjadi petani milenial tentu ada tantangan dan keuntungannya tersendiri. Tantangan pertama adalah mengoptimalkan potensi agraris Indonesia secara optimal dengan menghadirkan inovasi-inovasi. Selain itu, para calon petani milenial juga harus melawan dan menghapus stigma yang beredar di masyarakat tentang petani yang miskin. Namun, dibalik tantangan tersebut, ada berbagai keuntungan yang bisa kamu peroleh dengan bekerja di sektor pertanian.

Pertama, bekerja secara fleksibel. Jika menjadi karyawan di kantor kamu harus mengikuti segala aturan dari atasan, maka menjadi petani milenial kamu dapat mengatur sendiri jadwal sesuai dengan kebutuhan. Bahkan, kamu juga bisa menjadi bos bagi lahan atau metode pertanian yang kamu garap. Selain itu, tidak ada aturan berpakaian, sehingga kamu bisa bebas memakai pakaian asal sopan dan nyaman.

Kedua, tubuh menjadi lebih sehat. Dengan pekerjaan yang berbasis lapang, kamu jadi sering melakukan aktivitas fisik. Aktivitas tersebut menggerakkan tubuh dan menghasilkan keringat. Hal ini ternyata dapat berpengaruh bagi kesehatan tubuh jika dibandingkan hanya duduk berjam-jam yang membuat tubuh kaku dan tegang. Jadi, walau harus berpanas-panasan, namun ternyata bertani memberikan manfaat kesehatan.

Ketiga, mendapat kepuasan tersendiri. Proses dalam bertani dan menanam dapat memberikan kepuasan sendiri bagi pelakunya. Proses dari melihat apa yang ditanam, dirawat, hingga dipanen. Selain itu, dengan melihat lanskap hijau dan asri juga dapat merilekskan tubuh dan mengurangi stres.

Keempat, memiliki prospek yang cerah. Setiap manusia membutuhkan makan dan makanan dihasilkan dari sektor pertanian. Hal inilah yang menjadi penyebab ekonomi di sektor pertanian tetap positif walau pandemi Covid-19. Lalu, dengan keanekaragaman hayati yang berlimpah juga dapat dioptimalkan agar menjadi komoditas ekspor ke mancanegara. Dengan berbagai keuntungan tersebut, tentunya dengan menjadi petani milenial kamu juga bisa memberikan peran bagi ketahanan pangan nasional di tengah kemerosotan profesi petani.

Oleh karena itu, ayo Sobat Tani lawan stigma buruk tentang petani dan raih mimpimu menjadi petani milenial!

Penulis: Siti Zahwa Humaira | Editor: Exciyona Adistika

Konsultasi

    X