Artikel

PEMANTAPAN REGULASI POLA TANAM, GERAKAN TANAM SEREMPAK DAN TEKNIK JAJAR LEGOWO DI KAB. BOJONEGORO (Bagian 1)

-_210220175655-167
Berita

PEMANTAPAN REGULASI POLA TANAM, GERAKAN TANAM SEREMPAK DAN TEKNIK JAJAR LEGOWO DI KAB. BOJONEGORO (Bagian 1)

Kabupaten Bojonegoro memiliki total luas areal 230.706 Ha, dimana sebagian besar yaitu 42,70% merupakan lahan hutan milik negara, kemudian disusul oleh luas lahan sawah sebesar 32,65%, tanah kering 24,39%, perkebunan 0,04% dan lain-lain 0,18% (Pemkab Bojonegoro, 2011). Dari jenis penggunaan lahan tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu wilayah potensial pengembangan lahan sawah untuk mendukung ketahanan pangan di Indonesia. Dalam sebuah wawancara dengan harian Jawa Pos (Jumat, 20 Desember 2013) Bupati Bojonegoro, Suyoto kembali menyampaikan tekadnya untuk mewujudkan Bojonegoro sebagai lumbung pangan negeri. “Produksi beras kita (Bojonegoro) setara total impor beras nasional. Kami bertekad terus meningkatkan prestasi tersebut”, tegas Bupati Suyoto.


Bojonegoro akan mampu menjadi lumbung pangan negeri apabila produktivitas padinya mantab tinggi. Kondisi lahan (fisik, kimia dan biologi), pola tanam, waktu tanam dan jarak tanam merupakan beberapa faktor yang turut mempengaruhi tinggi rendahnya produktivitas padi di Kabupaten Bojonegoro. Pola tanam dan waktu tanam yang tidak serempak serta jarak tanam yang tidak tepat akan menjadi peluang munculnya gangguan bahkan serangan organisme pengganggu tumbuhan, sehingga menurunkan produktivitas.
Ciri khas Bojonegoro, yang membedakan dengan daerah lainnya yaitu adanya sungai Bengawan Solo yang mengalir sepanjang Bojonegoro bagian selatan ke wilayah utara dan memanjang ke bagian timur Kabupaten Bojonegoro. Bagian utara merupakan daerah aliran sungai Bengawan Solo yang subur dengan pertanian intensif, sedangkan bagian selatan dan bagian barat laut yang berbatasan dengan pegunungan kapur, sebagian besar lahannya merupakan lahan tadah hujan.


Kondisi yang berbeda antara beberapa daerah di Kabupaten Bojonegoro memberikan gambaran waktu tanam dan pola tanam yang berbeda antara daerah sekitar bantaran sungai Bengawan Solo dan daerah yang berada di luar bantaran Bengawan Solo. Pola tanam petani di bantaran sungai Bengawan Solo adalah Padi-Padi-Bero(karena banjir), sedangkan di daerah sebelah selatan dan barat laut Bojonegoro, yang tidak terganggu dengan luapan Bengawan Solo di musim hujan, pola tanam yang dianjurkan adalah Padi-Padi-Palawija.
Air bagi petani di sepanjang bantaran sungai Bengawan Solo merupakan input biaya yang cukup tinggi karena untuk mengairi sawah mereka membutuhkan biaya sewa pompa untuk mengambil air dari bengawan ke persawahan. Saat kondisi hujan cukup, petani akan langsung memanfaatkannya untuk mulai tanam padi, sehingga waktu tanam antar petani di bantaran Bengawan Solo berbeda.


Di wilayah lain di luar bantaran bengawan, terjadi pergeseran iklim (agroklimat) dari kondisi rata-rata, yang mempengaruhi perubahan pola tanam anjuran. Curah hujan yang cukup tinggi menyebabkan air tersedia untuk budidaya padi ke-3. Pola tanam anjuran yang seharusnya Padi-Padi-Palawija berubah menjadi Padi-Padi-Padi. Karena tanam padi ke-3 ini petani “mengejar” kecukupan air, maka sering dijumpai suatu kondisi dimana pada satu hamparan lahan, ada sekelompok petani yang sibuk memanen padinya, di petak sebelahnya yang berdampingan sudah mulai muncul persemaian baru, dan di petak yang lain ada padi yang masih berumur sekitar 2 bulan.
Selain ketersediaan air, keterbatasan tenaga tanam juga mulai dirasakan di beberapa wilayah di Kabupaten Bojonegoro, misalnya di Kecamatan Kapas. Ada petani yang tanamnya terlambat (lebih dari) 15 hari dari waktu yang dijadwalkan. Kondisi perubahan iklim dan mulai terbatasnya buruh tanam menyebabkan tanam tidak serempak terjadi di beberapa wilayah. Hal ini merupakan kondisi yang sangat rawan jika ditinjau dari keberlanjutan hidup dan ketersediaan makanan hama tanaman sehingga memicu serangan OPT yang berakibat gagal panen ataupun turunnya produktivitas. Jarak tanam padi yang terlalu rapat juga berpotensi menimbulkan kerawanan serangan OPT.


Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro, realisasi produktivitas dan produksi padi dalam 3 (tiga) tahun terakhir tersaji pada Tabel Realisasi Produktivitas dan Produksi Padi Tahun 2010-2012 sebagai berikut:

NOINDIKATORREALISASI 2010REALISASI 2011REALISASI 2012
1.Luas Panen (ha)147.411137.925133.833
2.Produktivitas (ku/ha)62,5851,3360,00
3.Produksi (ton)922.440,52707.970,41803.059,56

Berdasarkan tabel tersebut, tampak bahwa produktivitas padi selama 3 (tiga) tahun terakhir mengalami pasang surut. Realisasi tahun 2013 sampai dengan saat ini masih dalam proses perhitungan (dilaporkan bulan Januari 2014). Media online “Halo Bojonegoro” (http://halobojonegoro.com/lumbung-pangan-kah-bojonegoro/) merilis pernyataan Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro bahwa target produksi padi tahun 2013 adalah 890.000 ton GKG. Dengan asumsi luas panen sama dengan tahun 2012, maka target produktivitas adalah 6,7 ton/ha (66,50 ku/ha) GKG.

Target ambisius yang diharapkan 3-5 tahun mendatang yaitu mampu menjadi lumbung pangan bagi negeri adalah tercapainya produksi gabah hingga 1,5 juta ton atau produktivitas setara dengan 11 ton/ha (110 ku/ha) GKG.

Baca Pemantapan Regulasi Pola Tanam, Gerakan Tanam Serempak Dan Teknik Jajar Legowo di Kab. Bojonegoro selanjutnya Bagian 2 dan Bagian 3

Oleh: Yuseriza Anugerah Leksana (Disampaikan Dalam Kegiatan Temu Teknis Penyuluh Pertanian Kabupaten Bojonegoro. Senin, 30 Desember 2013)

Konsultasi

    X