Artikel

PUPUK LIMBAH MAKANAN SEBAGAI SOLUSI PERTANIAN PERKOTAAN

PUPUK LIMBAH MAKANAN SEBAGAI SOLUSI PERTANIAN PERKOTAAN
Hortikultura / Pertanian

PUPUK LIMBAH MAKANAN SEBAGAI SOLUSI PERTANIAN PERKOTAAN

Loading

Kota-kota di seluruh dunia menghadapi dua masalah besar sekaligus, yakni menumpuknya limbah makanan serta ketergantungan pertanian pada pupuk kimia berbasis fosil. Ironisnya, disaat jutaan ton sisa makanan berakhir di tempat pembuangan akhir dan menyumbang emisi gas rumah kaca, pada bidang pertanian terkhusus pertanian perkotaan (urban agriculture) masih membutuhkan nutrisi tanah dalam jumlah besar. Oleh karena itu, peneliti mencari penemuan yang dapat mengatasi kedua masalah tersebut dengan memanfaatkan Food Waste Derived Digestate (FWDD) atau pupuk yang terbuat dari limbah makanan.

Eksperimen Pupuk Limbah Makanan

Sebuah studi dilakukan di kebun komunitas di California untuk meneliti potensi pupuk cair dari limbah makanan sebagai pupuk alternatif untuk pertanian kota. Pupuk tersebut merupakan produk samping dari proses pengolahan limbah secara anaerob (tanpa oksigen). Proses pengolahan meliputi pemilahan dan penghancuran limbah makanan, lalu limbah tersebut akan melalui fermentasi tanpa oksigen menggunakan alat digester. Sisa fermentasi kemudian diolah lebih lanjut agar aman dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Tanaman tomat dipilih sebagai model eksperimen karena umum dibudidayakan dan sensitif terhadap kondisi tanah serta nutrisi. Dalam penelitian ini, tomat ditanam dengan empat perlakuan berbeda: tanah tanpa pupuk, tanah yang ditambah pupuk kimia, tanah yang ditambah kompos, dan tanah yang ditambah campuran kompos serta pupuk limbah makanan. Selama hampir tiga bulan, peneliti memantau pertumbuhan tanaman, hasil panen, kualitas buah, dan kondisi tanah.

Hasil Eksperimen

Hasil yang didapatkan dari eksperimen tersebut cukup menjanjikan. Tanaman tomat yang ditanam pada tanah dengan campuran kompos dan pupuk limbah menunjukkan tinggi tanaman dan luas kanopi yang setara dengan tanaman yang diberi pupuk kimia. Meskipun pupuk kimia menghasilkan total buah paling banyak, jumlah buah yang benar-benar layak konsumsi dan berat total buah tidak berbeda jauh dengan perlakuan campuran kompos dan limbah. Bahkan, tomat dari perlakuan campuran memiliki berat buah dengan rata-rata terbesar jika dibandingkan dengan tiga perlakuan lainnya.

Jika dilihat dari segi kualitas, tomat hasil pupuk limbah makanan cenderung sedikit lebih terang dan kekuningan dengan rasa asam-segar. Selain itu, tingkat keasaman (pH), kadar air, dan kandungan mineral tomat hasil perlakuan ini tetap berada dalam kisaran normal. Artinya, penggunaan pupuk dari limbah makanan tidak menurunkan kualitas gizi maupun tampilan buah. Selain itu, pupuk ini terbukti tidak merusak kesehatan tanah dalam jangka pendek. Parameter seperti pH, kandungan nitrogen, kelembapan, dan konduktivitas listrik tetap berada pada tingkat aman. Sebaliknya, pupuk kimia menunjukkan penumpukan nitrogen yang tinggi dan kandungan kalsium yang lebih rendah. Hal tersebut dapat menyebabkan munculnya busuk ujung buah pada sebagian tomat.

Menggunakan pupuk dari limbah makanan lokal juga dapat berkontribusi dalam menjaga lingkungan dengan menekan emisi dari limbah dan produksi pupuk kimia. Meski demikian, peneliti mengakui masih ada tantangan. Persepsi masyarakat terhadap bau, keamanan, dan kebersihan pupuk dari limbah perlu dikaji lebih lanjut, begitu pula dampak jangka panjang terhadap tanah dan mikroorganisme.

Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa limbah makanan bukan akhir dari siklus konsumsi, melainkan dapat menjadi awal baru bagi pertanian kota yang lebih berkelanjutan dan tangguh dalam menghadapi perubahan iklim.

Penulis: Syifa Marsyaputri Alimudin | Editor:  Juan Febrian Panggabean

Tanya Pakar

powered by Advanced iFrame