TRADISI SEDEKAH LAUT MASYARAKAT PESISIR PELABUHAN RATU

TRADISI SEDEKAH LAUT MASYARAKAT PESISIR PELABUHAN RATU

Sedekah laut merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pesisir khususnya nelayan yang diadakan setiap setahun sekali. Tradisi sedekah laut ini dipercaya sudah diturunkan dari nenek moyang kepada penerus selanjutnya, dan terus dilakukan agar tidak lenyap tergerus oleh zaman. Tradisi sedekah laut masyarakat pesisir Pelabuhan Ratu digelar secara serentak setiap tanggal 6 April. Tanggal tersebut bukan sekedar hari pada umumnya, namun bertepatan dengan hari nelayan setiap tahunnya.
Adanya tradisi sedekah laut di pesisir Pelabuhan Ratu ini dikarenakan wilayah letak geografisnya yang diapit oleh dua samudera. Letak wilayah ini berpotensi menghasilkan hasil tangkapan yang melimpah. Selain itu, masyarakat pesisir Pelabuhan Ratu mayoritas mencari nafkah sebagai nelayan, sehinggga acara ini digelar sebagai bentuk syukur atas rahmat Tuhan atas rezeki yang diberikan.
Tradisi sedekah laut mengandung nilai spritual sebagai bentuk rasa syukur masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari hasil laut. Dengan diadakannya tradisi ini, masyarakat pesisir Pelabuhan Ratu berharap hasil laut yang diberikan membawa keberkahan.
Upacara Labuh Saji dalam Sedekah Laut
Pelaksanaan tradisi sedekah laut diawali dengan arak-arakan putri dan raja. Arak-arakan dimulai dari pendopo hingga pesisir Pantai Pelabuhan Ratu. Pesisir pantai ini lah biasanya masyarakat gunakan untuk menggelar pagelaran tari dan budaya. Ritual unik dalam tradisi ini yang sering dilakukan oleh nelayan Pelabuhan Ratu yaitu upacara labuh saji.
Labuh saji berasal dari kata labuh yang berati menjatuhkan sesuatu seperti benda sesajen dan kepala kerbau. Upacara ini sudah dilakukan secara turun temurun oleh nenek moyang terdahulu. Upacara labuh saji ini dilakukan untuk memberikan penghormatan kepada Nyi Putri Mayangsagara terhadap kesejahteraan yang telah diberikan kepada nelayan Pelabuhan Ratu. Rangkaian upacara labuh saji ini dilakukan oleh sesepuh atau tetua di Desa Pelabuhan Ratu.
Sesepuh ini lah yang melakukan ritual membuang kepala kerbau serta uang koin dengan cara melemparkan ke tengah laut. Sebelum sesepuh melakukan ritual upacara labuh saji, sesosok putri nelayan akan diarak menggunakan kereta kuda. Setelah sampai di bibir pantai, sang putri tersebut menaiki kapal utama bersama dayang-dayang atau gadis-gadis nelayan. Kapal utama ini kemudian akan berangkat ke tengah laut yang diiringi oleh rombongan perahu nelayan lainnya.
Tradisi yang diadakan oleh masyarakat pesisir Pelabuhan Ratu mengandung berbagai nilai seperti kebersamaan dan seni. Nilai-nilai tersebut tercermin dari semangat gotong royong masyarakat dalam menyukseskan tradisi ini. Melalui kegiatan ini juga, masyarakat tidak hanya menjaga kelestarian budaya lokal, tetapi juga mempererat solidaritas dan menjaga keseimbangan dengan alam.
Penulis: Susanti Rahayu Violita | Editor: Rahel Azzahra