RAWAI: ALAT TANGKAP IKAN TRADISIONAL YANG EFEKTIF
RAWAI: ALAT TANGKAP IKAN TRADISIONAL YANG EFEKTIF
![]()
Di tengah berkembangnya teknologi perikanan modern, dengan kapal besar dan alat tangkap serba canggih, masih ada satu alat sederhana yang tetap setia digunakan oleh nelayan tradisional di berbagai penjuru Nusantara.
Namanya rawai, seutas tali panjang yang dilengkapi banyak kail dan umpan, tetapi punya peran besar dalam menopang kehidupan nelayan kecil.
Apa Itu Rawai?
Bayangkan sebuah tali panjang membentang di lautan, dengan ratusan bahkan ribuan kail yang menggantung di sepanjangnya. Di setiap kail itu, ada umpan ikan kecil atau cumi-cumi yang menarik perhatian ikan besar yang berenang lewat. Begitu ikan menggigit umpan, kail menjeratnya dan di situlah hasil tangkapan diperoleh.
Itulah prinsip kerja rawai, atau dalam istilah internasional disebut long line.
Rawai termasuk alat tangkap ramah lingkungan karena tidak merusak dasar laut, tidak menyeret karang, dan hanya menangkap ikan yang benar-benar memakan umpan.

Mengapa Rawai Masih Digunakan?
Meski sederhana, rawai punya banyak keunggulan.
Nelayan tidak butuh mesin besar atau bahan bakar berlebih untuk mengoperasikannya. Alat ini cukup diulur di laut, dibiarkan beberapa jam, lalu ditarik kembali sambil memeriksa satu per satu kail yang mungkin sudah “berhadiah” ikan segar.
Selain itu, hasil tangkapan rawai terkenal berkualitas tinggi. Karena ikan tertangkap satu per satu, dagingnya masih utuh dan tidak rusak, berbeda dengan tangkapan pukat besar yang bisa saling tertekan di jaring. Bagi pembeli ikan segar, ini menjadi nilai tambah tersendiri.
Jenis-Jenis Rawai di Laut Indonesia
Rawai tidak hanya satu macam. Nelayan menyesuaikannya dengan lokasi dan jenis ikan yang ingin ditangkap.
- Rawai Dasar – dipasang di dasar laut untuk menangkap ikan seperti kerapu, kakap, dan manyung.
- Rawai Hanyut – dibiarkan mengapung mengikuti arus laut, sering digunakan untuk memburu ikan besar seperti tuna dan marlin.
- Rawai Tegak – digunakan di perairan dangkal atau sekitar karang, dengan tali utama yang menggantung vertikal dari permukaan ke dasar laut.
Setiap jenis rawai punya teknik dan perhitungan tersendiri: kedalaman, panjang tali, hingga ukuran kail dan umpan semuanya menentukan keberhasilan tangkapan.
Sederhana tapi Penuh Keterampilan
Mengoperasikan rawai memang terlihat mudah, tapi sebenarnya butuh ketelitian dan pengalaman. Nelayan harus tahu kapan waktu terbaik menurunkan alat, biasanya malam hari ketika ikan aktif mencari makan, serta memperkirakan arah arus dan kecepatan angin agar rawai tidak hanyut terlalu jauh.
Selain itu, pemilihan umpan juga penting. Umpan segar seperti ikan layang atau cumi-cumi lebih disukai ikan target, sementara di beberapa daerah, nelayan punya resep khusus umpan buatan dari campuran tepung ikan dan minyak.
Meski tergolong alat tangkap ramah lingkungan, rawai juga menghadapi tantangan.
Cuaca ekstrem, arus laut kuat, hingga persaingan dengan kapal besar sering membuat alat rawai rusak atau hilang. Belum lagi jika lokasi penangkapan semakin jauh akibat menurunnya populasi ikan di sekitar pesisir.
Namun, banyak komunitas nelayan kini berinovasi: menggunakan tali sintetis yang lebih kuat, pelampung dengan GPS sederhana, bahkan memodifikasi rawai agar lebih aman bagi penyu dan burung laut. Langkah-langkah kecil seperti ini menunjukkan bahwa tradisi bisa berjalan seiring dengan teknologi.
Penulis: Rahel Azzahra | Editor: Rahel Azzahra