PERINGATI HARI MARITIM NASIONAL 2026, LPA2I IPB BAHAS STRATEGI PERIKANAN NASIONAL HADAPI PERUBAHAN IKLIM MELALUI WEBINAR SERIES #TNCTALKSE17
PERINGATI HARI MARITIM NASIONAL 2026, LPA2I IPB BAHAS STRATEGI PERIKANAN NASIONAL HADAPI PERUBAHAN IKLIM MELALUI WEBINAR SERIES #TNCTALKSE17
![]()
“Perubahan iklim memberikan dampak terhadap aktivitas dan kehidupan nelayan sehingga diperlukan ruang pertukaran pengetahuan yang mempertemukan perspektif akademisi, pemerintah, dan masyarakat nelayan.”
DIGITANI.IPB.AC.ID, Bogor – Memperingati Hari Maritim Nasional 2026, Pengembangan Tani dan Nelayan, Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University kembali menghadirkan Webinar Series #TNCTalksE17 melalui Zoom Meeting dan Youtube dengan mengangkat tema “Strategi Perikanan Nasional di Era Perubahan Iklim: Menghadapi ENSO dan Tantangan Adaptasi Nelayan pada Hari Maritim Nasional.” pada Rabu (23/9).
Kepala LPA2I IPB University, Dr. Handian Purwawangsa, S.Hut., M.Si., dalam sambutannya menekankan relevansi tema webinar dengan tantangan yang saat ini dihadapi sektor perikanan.
“Perubahan iklim memberikan dampak terhadap aktivitas dan kehidupan nelayan sehingga diperlukan ruang pertukaran pengetahuan yang mempertemukan perspektif akademisi, pemerintah, dan masyarakat nelayan,” ujar Dr Handian.

Prof. Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr., selaku Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim IPB University, membuka kegiatan #TNCTalksE17 sekaligus menyampaikan pentingnya penguatan strategi perikanan nasional dalam menghadapi perubahan iklim. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa perubahan iklim memberikan dampak yang luas terhadap Indonesia, baik di wilayah daratan maupun laut. Di sektor kelautan, perubahan tersebut antara lain ditandai dengan kenaikan permukaan air laut dan peningkatan suhu air laut yang berpotensi memengaruhi produktivitas perikanan serta meningkatkan potensi cuaca ekstrem. Kondisi tersebut menuntut nelayan untuk semakin adaptif dan memiliki pemahaman terhadap perubahan kondisi lingkungan dan iklim.

Penyelenggaraan Webinar #TNCTalksE17 sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang pertemuan antara pengetahuan ilmiah dan kebutuhan nyata masyarakat. IPB University melalui Pengembangan Tani dan Nelayan mendorong agar hasil kajian dan riset dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan.
Dampak ENSO Tidak Sama di Setiap Wilayah
Salah satu persoalan penting yang dibahas dalam webinar adalah bagaimana fenomena ENSO, termasuk El Nino dan La Nina, dapat memberikan dampak berbeda pada masing-masing wilayah perairan Indonesia.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. Jonson Lumban Gaol, M.Si., dalam paparannya mengenai “Dampak Variabilitas Iklim (Monsoon, ENSO, IOD) terhadap Produksi Perikanan”, menjelaskan bahwa dinamika sumber daya ikan perlu dipahami berdasarkan dimensi ruang dan waktu.

Perubahan kondisi oseanografi dapat memengaruhi produktivitas perairan dan distribusi sumber daya ikan. Dalam kondisi tertentu, perubahan lingkungan bahkan dapat mempengaruhi lokasi keberadaan ikan sehingga nelayan perlu menyesuaikan lokasi, waktu, dan strategi penangkapan.
Karena itu, informasi kelautan yang akurat dan tepat waktu menjadi salah satu kebutuhan penting bagi nelayan. Integrasi data satelit, data produksi pelabuhan, hasil tangkapan, serta informasi oseanografi dapat dikembangkan untuk menghasilkan informasi yang lebih baik mengenai kondisi dan perubahan sumber daya ikan.
“Informasi tersebut diharapkan dapat membantu nelayan menentukan apakah perlu melaut, ke mana harus melaut, atau menyesuaikan strategi penangkapannya.”
Kearifan Lokal dan Informasi Cuaca Jadi Bagian Strategi Adaptasi
Perspektif berbeda disampaikan oleh Panglima Laot Aceh, Miftachhuddin Cut Adek, S.E., M.Si., yang membahas “Strategi Perikanan Tangkap di Era Perubahan Iklim: Menghadapi El-Nino dan Tantangan Adaptasi Nelayan Aceh.”

Ia menyoroti pentingnya kelembagaan masyarakat dan hukum adat laut dalam menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir. Di Aceh, misalnya, terdapat pengaturan adat mengenai waktu-waktu tertentu ketika aktivitas melaut dihentikan. Hukum adat juga memuat larangan terhadap praktik penangkapan yang dapat merusak lingkungan seperti penggunaan bom dan bahan beracun.
Dalam menghadapi perubahan musim dan El Nino, nelayan perlu melakukan penyesuaian terhadap lokasi dan waktu penangkapan. Pemanfaatan informasi cuaca dan kondisi laut, termasuk melalui kerja sama dengan BMKG, menjadi salah satu dasar bagi nelayan dalam menentukan waktu dan wilayah yang lebih aman untuk melaut.
Pesan yang mengemuka dari pengalaman masyarakat Aceh tersebut menempatkan keberlanjutan laut dan keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir sebagai dua hal yang tidak terpisahkan.
“Jaga laut, jaga kehidupan, jaga Aceh, dan jagalah nilai biodiversitas.”
Adaptasi Tidak Cukup Hanya dengan Teknologi
Sementara itu, Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dr. Syahril Abd. Raup, menyoroti kebutuhan untuk memperkuat pengelolaan perikanan berbasis data dan penelitian. Menurutnya, perubahan distribusi sumber daya ikan dapat memberikan dampak berantai, mulai dari nelayan, aktivitas penangkapan, hingga industri pengolahan ikan.

Karena itu, kebijakan seperti penangkapan ikan terukur berbasis kuota membutuhkan dukungan data dan hasil penelitian yang akurat mengenai potensi serta stok ikan. Penguatan pendataan di berbagai titik pendaratan ikan juga menjadi penting untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai aktivitas dan produksi perikanan.
Pembahasan juga menempatkan ketahanan ekonomi sebagai bagian penting dari adaptasi. Nelayan tidak hanya menghadapi risiko cuaca dan perubahan lokasi ikan, tetapi juga fluktuasi harga ketika hasil tangkapan melimpah. Karena itu, fasilitas penyimpanan, pengolahan, akses pasar, kelembagaan ekonomi, serta pekerjaan alternatif perlu menjadi bagian dari strategi adaptasi.
Dalam konteks tersebut, Dr. Syahril turut membahas Program Kampung Nelayan Merah Putih, antara lain melalui penguatan fasilitas pendaratan ikan, penyimpanan dan es, akses pembeli, informasi cuaca, pelatihan pengolahan hasil perikanan, serta pengembangan pekerjaan alternatif bagi masyarakat nelayan.
Penulis: Fathiyya Azzahra | Editor: Nurma