PAKAN TERNAK MULAI SULIT SAAT KEMARAU? INI 5 CARA MENYIASATINYA
PAKAN TERNAK MULAI SULIT SAAT KEMARAU? INI 5 CARA MENYIASATINYA
![]()
Hijauan berkurang ≠ ternak harus kekurangan pakan.
Musim kemarau dapat menjadi tantangan bagi peternak karena produksi hijauan pakan ternak cenderung menurun, kualitas pakan dapat ikut terdampak, dan biaya pemeliharaan berpotensi meningkat. Kondisi tersebut membuat persiapan sumber pakan menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas ternak selama periode kering.
Kementerian Pertanian mendorong sejumlah strategi untuk menghadapi kondisi tersebut, mulai dari pengembangan hijauan yang adaptif terhadap kekeringan, konservasi pakan melalui silase dan hay, hingga pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber pakan alternatif.
Lalu, apa saja yang dapat dilakukan peternak ketika rumput mulai sulit diperoleh?
1. Simpan Hijauan dalam Bentuk Silase
Silase merupakan salah satu teknologi pengawetan hijauan melalui proses fermentasi dalam kondisi anaerob sehingga pakan dapat disimpan lebih lama dibandingkan hijauan segar. Teknologi ini dapat digunakan untuk memanfaatkan hijauan yang melimpah sebelum memasuki musim kemarau sehingga tersedia cadangan pakan ketika produksi hijauan segar menurun. Bahan yang dapat digunakan untuk silase tidak hanya rumput segar, tetapi juga beberapa bahan seperti tebon jagung, sorgum, serta limbah pertanian dan perkebunan yang sesuai untuk diolah menjadi pakan. Dengan demikian, peternak dapat memanfaatkan periode ketika bahan pakan melimpah untuk membangun stok pakan sebelum ketersediaan hijauan menurun.
2. Ubah Hijauan Menjadi Hay
Selain silase, hijauan dapat diawetkan dalam bentuk hay sebagai salah satu pilihan cadangan pakan ketika produksi hijauan segar menurun pada musim kemarau.

Hay pada dasarnya merupakan hijauan yang dikeringkan sehingga kadar airnya rendah dan dapat disimpan untuk digunakan pada waktu tertentu. Teknologi pengawetan seperti hay dan silase menjadi bagian dari strategi penyediaan pakan untuk menghadapi periode ketika hijauan segar sulit tersedia.
Karena itu, peternak dapat memilih metode pengawetan sesuai dengan kondisi bahan, fasilitas, tenaga kerja, dan kebutuhan penyimpanan yang tersedia di tingkat peternakan.
3. Manfaatkan Limbah Pertanian
Ketika hijauan terbatas, limbah atau hasil samping pertanian dapat menjadi salah satu sumber bahan pakan alternatif bagi ternak. Beberapa bahan yang pernah dikaji sebagai pakan alternatif antara lain jerami, limbah tanaman pangan, daun ubi kayu, kulit nanas, bungkil sawit, bungkil kopra, onggok, dan kulit kopi, tergantung pada ketersediaan lokal dan karakteristik bahan tersebut. Pemanfaatan limbah pertanian juga dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap hijauan segar sekaligus meningkatkan nilai guna hasil samping pertanian yang tersedia di sekitar peternakan. Namun, tidak semua limbah pertanian dapat diberikan begitu saja kepada ternak karena kandungan nutrisi dan karakteristik setiap bahan berbeda, sehingga pengolahan dan penyusunan ransum tetap perlu diperhatikan.
4. Pilih Hijauan yang Lebih Adaptif terhadap Kondisi Kering
Persiapan pakan untuk menghadapi kemarau tidak hanya dilakukan dengan menyimpan pakan, tetapi juga dengan memperkuat sumber hijauan yang mampu beradaptasi terhadap kondisi kering. Kementerian Pertanian mendorong pengembangan hijauan pakan ternak yang lebih adaptif terhadap kekeringan, termasuk berbagai jenis leguminosa dan rumput unggul yang dapat mendukung ketersediaan pakan. Pengembangan kebun hijauan pakan dan pemanfaatan lahan yang sesuai untuk tanaman pakan juga menjadi salah satu strategi untuk memperkuat sumber pakan di tingkat peternak.
Dengan memiliki sumber hijauan yang lebih terencana, peternak tidak sepenuhnya bergantung pada rumput liar yang ketersediaannya dapat berubah mengikuti kondisi musim.
5. Siapkan Cadangan Pakan Sebelum Rumput Habis
Kesalahan yang perlu dihindari adalah baru mencari alternatif pakan ketika persediaan hijauan sudah menipis. Kementerian Pertanian menekankan pentingnya penyimpanan cadangan pakan sejak sebelum periode kemarau agar ketersediaan pakan tetap terjaga ketika produksi hijauan menurun. Salah satu bentuk strategi tersebut adalah penguatan Bank Pakan, yaitu sistem penyediaan cadangan pakan yang dapat dimanfaatkan ketika produksi rumput menurun akibat kemarau panjang. Pada Juli 2026, Kementerian Pertanian menyebut telah memfasilitasi 843 Bank Pakan yang tersebar di 34 provinsi sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pakan nasional. (Sumber: Ditjen PKH Kementerian Pertanian, 2026)
Jangan Tunggu Rumput Habis
Kemarau memang dapat mengurangi ketersediaan hijauan, tetapi kondisi tersebut dapat diantisipasi melalui perencanaan pakan yang lebih baik. Peternak dapat mengombinasikan beberapa strategi, seperti menanam hijauan yang adaptif terhadap kondisi kering, membuat silase atau hay, memanfaatkan sumber pakan lokal dan limbah pertanian yang sesuai, serta menyiapkan cadangan sebelum memasuki periode kekeringan.
Intinya, ketahanan pakan harus dipersiapkan sebelum pakan benar-benar sulit diperoleh. Dengan cadangan yang cukup dan pengelolaan pakan yang tepat, peternak dapat mengurangi risiko kekurangan pakan selama musim kemarau dan membantu menjaga produktivitas ternak.
Penulis: Muhammad Yudistira | Editor: Muhammad Yudistira