Artikel

MENGAPA TANAH YANG SUDAH DIPESTISIDA MALAH SEMAKIN MENIMBULKAN BANYAK HAMA DAN PENYAKIT?

herbicide-g7fcdcde8f_1920
Artikel Konsultasi

MENGAPA TANAH YANG SUDAH DIPESTISIDA MALAH SEMAKIN MENIMBULKAN BANYAK HAMA DAN PENYAKIT?

Pertanyaan:

Kenapa tanah yang sudah kena pestisida malah semakin menimbulkan banyak hama dan penyakit? Padahal sudah diberi kotoran hewan ternak untuk menetralisir itu, tapi tetap saja. Apa solusinya dalam jangka pendek dan jangka panjang? Masih bisakah meneruskan untuk menggunakan pestisida? Jika tidak, apa yang harus saya gunakan?

(Anonim)

Jawaban:

Halo, Sobat Tani.

Terima kasih telah bertanya kepada Pakar IPB.

Terkait pertanyaan Sobat Tani di atas, penggunaan pestisida harus dilakukan secara bijaksana yaitu dengan menggunakan dosis yang tepat dan melakukan rotasi bahan aktif. Penggunaan yang berlebihan dan tidak tepat menyebabkan terjadinya resistensi, resurgensi, dan hilangnya musuh alami hama/penyakit. Hal yang dapat dilakukan untuk menanggulangi lahan yang tercemar pestisida adalah dengan melakukan bioremediasi. Salah satu cara bioremediasi adalah dengan menggunakan kompos dari kotoran ternak. Kotoran ternak mengandung konsorsium mikroba yang dapat mendegradasi senyawa kimia pada tanah. Penggunaan kompos dari kotoran ternak yang dicampur dengan residu tanaman hortikultura sangat dianjurkan untuk dikembangkan, selain mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia juga mengatasi masalah pencemaran lahan.

Bakteri seperti Flavobacterium sp., Pseudomonas sp., Agrobacterium sp. dan Arthrobacter sp. mampu mendegradasi pestisida dasinon dan organofosfat lain, seperti chlorpyrifos, parathion dan methylparathion. Pseudomonas sp. mampu mendegradasi pestisida dasinon sangat tinggi, yakni hingga 87%. Urea berlapis arang aktif yang diperkaya mikroba Bacillus juga mampu menurunkan residu aldrin, dieldrin, heptaklor dan DDT lebih dari 50%.

Untuk hasil optimal bioremediasi dilakukan dengan mencari tahu dan menentukan jenis residu apa yang mencemari lahan, sehingga dapat digunakan jenis mikroba yang tepat untuk remediasi. Lama proses bioremediasi bervariasi, dapat berlangsung selama beberapa bulan hingga beberapa tahun tergantung pada konsentrasi cemaran pada tanah dan luas lahan yang tercemar. Setelah cemaran pada lahan berkurang pada batas yang dapat ditoleransi dan tanah kembali sehat, lahan dapat kembali digunakan dengan menerapkan konsep pertanian yang berbasis ekologis.

Untuk jangka pendek, yang perlu dilakukan adalah memeriksa jenis senyawa kimia yang menjadi cemaran di lahan untuk menentukan mikroba terbaik untuk digunakan. Pemberian kompos untuk remediasi telah terbukti dapat mendegradasi residu pestisida Dithane M-45 dan profenofos. Kompos yang digunakan adalah kompos dari  kotoran sapi dan kotoran ayam. Dosis yang digunakan adalah 12 ton/ha pada lapisan olah atau kedalaman sampai 10 – 15 cm. Penggunaan pestisida kimia di lahan tersebut tidak dianjurkan karena dapat meningkatkan konsentrasi cemaran pada tanah dan menyebabkan masalah lain, seperti resistensi dan resugensi. Sebagai gantinya, penerapan PHT sangat dianjurkan karena dapat menggantikan fungsi pestisida dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT). Konsep PHT diterapkan untuk menjaga keseimbangan alam, sehingga dapat mewujudkan pertanian berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan serta lebih baik untuk pertanian jangka panjang.

Selamat mencoba.

Dijawab oleh Pakar IPB University

Konsultasi

    X