Artikel

BUDIDAYA BELUT DI AIR BENING: SOLUSI EFEKTIF UNTUK LAHAN SEMPIT

IPB DIGITANI - TANI DAN NELAYAN CENTER IPB UNIVERSITY - BUDIDAYA BELUT DI AIR BENING: SOLUSI EFEKTIF UNTUK LAHAN SEMPIT
Artikel / Budidaya Perikanan / Perikanan

BUDIDAYA BELUT DI AIR BENING: SOLUSI EFEKTIF UNTUK LAHAN SEMPIT

Budidaya belut merupakan peluang bisnis yang menjanjikan. Saat ini, tantangan utama dalam usaha ini terletak pada produksi, bukan pemasaran. Jika hanya mengandalkan tangkapan alam, pasokan belut tidak akan mampu memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat. Oleh karena itu, budidaya belut menjadi solusi yang menarik bagi peternak, terutama dengan metode air bening yang menawarkan berbagai keunggulan.

Keunggulan Budidaya Belut di Air Bening

Salah satu kelebihannya budidaya belut di air bening adalah efisiensi lahan. Dengan media air bening, peternak dapat memulai budidaya bahkan di area seluas 1 m². Padat tebar bibit belut dalam media ini jauh lebih tinggi dibandingkan media lumpur. Pada lahan 1 m², padat tebar bibit belut ukuran 9 cm bisa mencapai 10 kg atau sekitar 900 ekor, sedangkan pada media lumpur hanya 1 kg atau sekitar 90 ekor.

Selain itu, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) belut yang dipelihara dalam air bening lebih tinggi, mencapai 90%. Dalam kurun waktu empat bulan, hasil panen bisa mencapai 40–50 kg dari bibit awal sebanyak 10 kg.

Budidaya dengan metode ini juga cocok untuk lingkungan perkotaan karena memungkinkan penggunaan kolam bertingkat. Wadah budidaya dapat menggunakan tandon air atau kotak styrofoam berkapasitas 200 liter. Kotak styrofoam memiliki keunggulan dalam menjaga kestabilan suhu air, sehingga pertumbuhan belut lebih optimal. Agar wadah budidaya lebih kuat, Fajar menyarankan penggunaan besi sebagai penyangga dengan jarak antarwadah 10–15 cm untuk memudahkan kontrol pertumbuhan belut.

Manajemen Pakan dan Perawatan

Keberhasilan budidaya belut juga sangat bergantung pada pakan. Menurut Fajar, pembudidaya lebih efektif jika memproduksi pakan sendiri daripada membelinya. Pakan terbaik untuk belut adalah cacing, yang mengandung protein tinggi mencapai 60%. Alternatif lainnya adalah keong, meskipun kadar proteinnya lebih rendah, yakni sekitar 40%.

Rasio konversi pakan (Feed Conversion Ratio) dalam budidaya belut adalah 1,6. Artinya, untuk mendapatkan 1 kg daging belut, diperlukan 1,6 kg pakan. Waktu pemberian pakan yang ideal adalah sore atau malam hari karena belut bersifat nokturnal dan lebih aktif di malam hari. Jika pakan diberikan pagi hari, ada risiko pakan membusuk karena tidak langsung dimakan oleh belut.

Selain pakan, kualitas air juga menjadi faktor penting. Belut sangat sensitif terhadap sinar matahari karena tidak memiliki perlindungan seperti sisik atau sirip. Oleh karena itu, peternak harus menyediakan tempat persembunyian bagi belut, seperti pelepah pisang. Namun, sebagian permukaan kolam tetap harus terbuka agar belut bisa mengambil udara dari permukaan.

Menurut Dr. Ir. Irzal Effendi, M.Si., ahli akuakultur dari Institut Pertanian Bogor, budidaya belut di air bening sangat cocok untuk wilayah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan, air, dan lumpur. Selain lebih praktis, metode ini juga memudahkan pemantauan kesehatan dan pertumbuhan belut. Proses panen pun lebih cepat dibandingkan dengan budidaya di lumpur. Namun, peternak perlu merekayasa lingkungan agar belut dapat beradaptasi dengan baik.

Budidaya belut di air bening menawarkan berbagai keunggulan, mulai dari efisiensi lahan, peningkatan padat tebar, hingga kemudahan pemantauan. Metode ini sangat cocok bagi peternak di perkotaan yang memiliki keterbatasan ruang dan sumber daya. Dengan perawatan yang tepat, terutama dalam hal pakan dan kontrol lingkungan, budidaya belut dengan metode ini dapat menjadi peluang bisnis yang menguntungkan dan berkelanjutan.

Penulis: Rahel Azzahra | Editor: Rahel Azzahra

Tanya Pakar