BARBODES KLAPANUNGGALENSIS: SPESIES BARU IKAN GUA BUTA

BARBODES KLAPANUNGGALENSIS: SPESIES BARU IKAN GUA BUTA

Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah berhasil mengidentifikasi spesies ikan gua buta baru di kawasan karst Klapanunggal, Jawa Barat. Spesies ini diberi nama Barbodes klapanunggalensis, sebagai penghormatan terhadap lokasi penemuannya. Nama tersebut juga diberikan karena spesies ini dan merupakan ikan endemik yang hidup di perairan bawah tanah.
Ikan ini memiliki ciri khas yang membedakannya dari spesies ikan gua lainnya. Dengan tubuh yang sepenuhnya pucat dan tanpa mata, Barbodes klapanunggalensis beradaptasi terhadap kehidupan di lingkungan gua yang gelap dan terisolasi. Menurut Kunto Wibowo, Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, ikan ini memiliki cekungan orbital tertutup kulit sebagai bekas mata yang telah mengalami reduksi evolusi.
Tubuh ikan ini tidak memiliki pigmen hitam (melanofor), memberikan warna putih keperakan yang mencolok. Sirip dada dan sirip perutnya relatif panjang dengan sisik aksial di belakang sirip perut lebih pendek dengan ujung membulat. Perilaku ikan ini juga menarik; mereka cenderung diam di air yang tenang, tetapi mulai aktif berenang ketika airnya terganggu.
Habitat dan Ancaman terhadap Kelangsungan Hidupnya
Barbodes klapanunggalensis hanya ditemukan di Gua Cisodong 1, yang terletak di kawasan karst Klapanunggal, Kabupaten Bogor. Habitatnya berupa kolam-kolam kecil di dalam gua yang dialiri air rembesan dari lantai gua. Air dalam kolam ini jernih dengan partikel tanah liat halus, dan terhubung dengan sistem sungai bawah tanah musiman.
Sayangnya, meskipun lokasi gua ini sulit diakses dan jauh dari pemukiman, aktivitas penambangan batu kapur di daerah tersebut menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup spesies ini. Saat ini, hanya 9,96% dari total kawasan karst Klapanunggal yang mendapat perlindungan resmi dalam bentuk Kawasan Bentang Alam Karst Bogor.
Penemuan dan Proses Identifikasi Spesies
Spesies ini pertama kali diamati pada Agustus 2020 oleh tim penjelajah gua dari Latgab Caving Jabodetabek, Indonesian Speleological Society (ISS), dan Gema Balantara. Lebih dari 20 individu ikan tanpa mata dan tanpa pigmen terlihat di dua lokasi berbeda dalam gua tersebut, tetapi tidak ada spesimen yang berhasil dikoleksi saat itu.
Pada Juli 2022, tim peneliti kembali ke gua dan berhasil mengoleksi dua spesimen dari kolam yang sama. Studi lebih lanjut memastikan bahwa ikan ini merupakan spesies baru, yang akhirnya dipublikasikan dalam jurnal ZooKeys.
Perlunya Upaya Konservasi
Keberadaan Barbodes klapanunggalensis yang terbatas pada satu lokasi menjadikannya sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Faktor-faktor seperti distribusi yang terbatas, habitat yang khas, serta populasi kecil membuat ikan ini memenuhi kriteria spesies terancam. Oleh karena itu, tim peneliti merekomendasikan perlindungan lebih ketat terhadap kawasan karst Klapanunggal dengan memperluas area konservasi yang ada.
Selain itu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami ekologi spesies ini secara lebih mendalam. Keterlibatan masyarakat lokal dalam upaya konservasi juga sangat penting agar kelangsungan hidup Barbodes klapanunggalensis tetap terjaga sebagai bagian dari kekayaan biodiversitas Indonesia.
Dengan penemuan ini, Indonesia kini memiliki enam spesies ikan gua endemik, dengan dua di antaranya berasal dari Jawa, yaitu Barbodes klapanunggalensis dan Barbodes microps. Penemuan ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem gua yang unik dan rapuh dari ancaman aktivitas manusia.
Penulis: Rahel Azzahra | Editor: Rahel Azzahra