Artikel

CARA OPTIMAL GUNAKAN RUMPON UNTUK TANGKAP TUNA 

Proses penurunan rumpon oleh tim Badak LNG–IPB, wujud kolaborasi riset dan inovasi untuk perikanan berkelanjutan. | Foto: Badak LNG
Artikel / Perikanan / Perikanan Tangkap

CARA OPTIMAL GUNAKAN RUMPON UNTUK TANGKAP TUNA 

Loading

Proses penurunan rumpon oleh tim Badak LNG–IPB, wujud kolaborasi riset dan inovasi untuk perikanan berkelanjutan. | Foto: Badak LNG
Proses penurunan rumpon oleh tim Badak LNG–IPB, wujud kolaborasi riset dan inovasi untuk perikanan berkelanjutan. | Foto: Badak LNG

Rumpon (Fish Aggregating Device/FAD) merupakan salah satu alat bantu yang digunakan nelayan untuk menarik perhatian ikan, khususnya tuna, agar berkumpul di suatu lokasi. Penggunaan rumpon yang tepat tidak hanya meningkatkan hasil tangkapan, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Oleh karena itu, pemasangan rumpon harus memperhatikan berbagai aspek teknis dan ekologi. 

Menurut BMP Perikanan Tuna: Panduan Penangkapan dan Penanganan yang diterbitkan WWF Indonesia (2023), ada beberapa prinsip penting dalam pemasangan dan pemanfaatan rumpon, yaitu: 

Menentukan Lokasi Pemasangan 

Penempatan rumpon harus mempertimbangkan pola ruaya ikan tuna, baik secara horizontal maupun vertikal, serta kebiasaan ikan berenang pada kedalaman dan waktu tertentu. Selain itu, informasi tentang zonasi perairan juga menjadi faktor penting. Lokasi rumpon harus sesuai peruntukan yang ditetapkan otoritas pengelola perairan, tidak berada di jalur pelayaran, jalur migrasi satwa laut yang dilindungi (seperti paus dan penyu), serta tidak berada di zona inti konservasi atau area pemijahan ikan. 

Selain aspek ekologi, pemasangan rumpon juga harus menghindari konflik sosial. Hal ini dilakukan dengan cara tidak menempatkan rumpon di area yang sudah digunakan nelayan lain. 

Identifikasi Kondisi Perairan 

Sebelum memasang rumpon, perlu dilakukan survei kondisi perairan, meliputi kedalaman laut dan kecepatan arus. Informasi ini digunakan untuk menentukan panjang tali utama, jumlah jangkar, dan bobot pemberat yang akan digunakan. 

Selain itu, jarak antar rumpon dalam satu kawasan harus diperhatikan. Rumpon yang terlalu dekat dapat menurunkan efektivitas pengumpulan ikan, sedangkan jarak yang terlalu jauh akan menyulitkan pengawasan. 

Proses Pemasangan Rumpon 

Tahapan pemasangan rumpon menurut panduan WWF (2023) meliputi: 

  • Mengikat tali utama ke drum pelampung. Panjang tali utama dilebihkan sekitar 200–300 meter dari kedalaman laut yang ditentukan, misalnya pada kedalaman ±1000 m. 
  • Menghubungkan tali utama dengan tali antar jangkar, yang dilakukan di atas kapal sesaat sebelum dilepaskan. 
  • Melepaskan drum pelampung dan tali utama lebih dahulu ke laut agar tidak tersangkut saat jangkar diturunkan. 
  • Mengikat rakit rumpon ke tali utama, dilanjutkan dengan penenggelaman daun kelapa/lontar sebagai pemikat. Daun diikat setiap 1 meter pada tali tambahan yang diberi pemberat, dengan 2–3 pelepah daun per ikatan. Semakin dalam daun terpasang, semakin efektif menarik perhatian tuna. 
  • Pemasangan lampu atau bendera di bagian atas rakit, berfungsi sebagai tanda visual bagi nelayan maupun kapal lain agar mudah dikenali. 

Rumpon tidak hanya dipasang lalu ditinggalkan, tetapi juga perlu dipantau secara berkala. Dapat dilakukan uji coba pemancingan setiap dua minggu sekali untuk mengetahui jumlah dan ukuran ikan tuna yang berkumpul. Pada saat yang sama, kondisi daun kelapa atau pemikat diperiksa dan diganti bila ada yang rusak atau hilang. 

Penulis: Rahel Azzahra | Editor: Rahel Azzahra 

Tanya Pakar

powered by Advanced iFrame