Artikel

SEGMENTASI BUDIDAYA KERAPU: PEMBENIHAN HINGGA PEMBESARAN

IPB DIGITANI - TANI DAN NELAYAN CENTER IPB UNIVERSITY - SEGMENTASI BUDIDAYA KERAPU: PEMBENIHAN HINGGA PEMBESARAN
Artikel / Budidaya Perikanan / Perikanan

SEGMENTASI BUDIDAYA KERAPU: PEMBENIHAN HINGGA PEMBESARAN

Budidaya kerapu merupakan usaha yang melibatkan beberapa tahapan segmentasi, mulai dari pembenihan hingga pembesaran. Pemilihan ukuran bibit saat penebaran sangat menentukan durasi budidaya, dengan tiga segmen utama yang umum dilakukan oleh para peternak kerapu.

Bibit kerapu dengan ukuran 2,7—3 cm diperuntukkan bagi segmen pembesaran awal. Setelah mencapai ukuran 6—8 cm, bibit ini siap ditebar di tambak. Sementara itu, bibit dengan ukuran lebih dari 10 cm biasanya dipersiapkan untuk pembesaran di keramba jaring apung (KJA).

Proses Pembenihan Kerapu

Pembenihan kerapu dimulai dengan penetasan telur yang diperoleh dari sumber terpercaya. Dalam satu wadah yang berisi 25.000 telur, tingkat daya tetas (hatchery rate) berkisar 10—15%, menghasilkan 2.500—3.750 burayak per wadah. Burayak yang baru menetas ditempatkan dalam kolam semen berukuran 2 m x 1 m dengan kedalaman air laut 50—75 cm, berpopulasi 500—1.000 burayak per kolam.

Burayak mulai diberi pakan setelah dua hari menetas, mengonsumsi plankton dan artemia. Setelah lebih dari 30 hari, mereka mulai diberi pelet berukuran kecil, yang hingga kini masih diimpor dari luar negeri. Setelah mencapai ukuran 2,7—3 cm dalam waktu 50—60 hari, burayak siap untuk dipanen dengan tingkat sintasan sekitar 10—15%. Harga jual burayak berkisar Rp2.500–Rp3.000 per ekor, dengan biaya produksi sekitar Rp1.000 per ekor.

Jenis kerapu yang banyak dipilih untuk pembesaran adalah kerapu cantang, hasil persilangan antara kerapu kertang jantan dan kerapu macan betina. Keunggulan kerapu cantang adalah pertumbuhannya yang lebih cepat dibandingkan dengan kedua induknya.

Pembesaran Benih Kerapu

Setelah burayak mencapai ukuran 2,7—3 cm, proses pembesaran dilakukan agar benih mencapai ukuran 6—8 cm dalam waktu 3–5 pekan atau lebih dari 10 cm dalam waktu sekitar 7 pekan.

Pertumbuhan kerapu rata-rata mencapai 1 cm per pekan. Harga benih bergantung pada kualitasnya, dengan harga Rp800 per cm untuk mutu super dan Rp500 per cm untuk mutu kurang optimal.

Benih kerapu ideal memiliki panjang 18 cm dengan bobot 100 gram. Jika benih memiliki ciri-ciri cacat seperti muka pesek, ekor tidak sempurna, atau insang yang tidak tertutup dengan baik, maka harganya turun drastis hingga Rp300 per ekor. Hal ini tentu merugikan pembudidaya karena biaya produksi mencapai Rp1.000 per ekor.

Segmentasi untuk Perputaran Usaha yang Lebih Cepat

Beberapa pembudidaya memilih untuk melakukan segmentasi lebih lanjut dengan membesarkan benih dari ukuran 6—8 cm menjadi 12–15 cm. Ukuran tersebut lebih diminati oleh pembudidaya yang akan menebar benih di KJA.

Segmentasi ini memungkinkan perputaran modal yang lebih cepat karena pembesaran benih hanya memakan waktu sekitar 1,5 bulan sebelum bisa dijual. Sebagai perbandingan, pembesaran hingga ukuran konsumsi dapat memakan waktu hingga 8 bulan. Dengan strategi segmentasi ini, pembudidaya bisa mendapatkan hasil lebih cepat tanpa harus menunggu masa panen yang panjang.

Dengan adanya segmentasi dalam budidaya kerapu, pembudidaya dapat memilih strategi yang paling sesuai dengan kebutuhan pasar dan kapasitas usaha mereka. Kejelian dalam menentukan tahapan pembesaran dapat meningkatkan efisiensi produksi serta mengoptimalkan keuntungan dari budidaya kerapu.

Penulis: Rahel Azzahra | Editor: Rahel Azzahra

Tanya Pakar