Artikel

LPA2I IPB DAN KRKP DORONG PENGUATAN PRAKTIK PERTANIAN PADI BERKELANJUTAN

Screenshot (61)
Berita / Siaran Pers

LPA2I IPB DAN KRKP DORONG PENGUATAN PRAKTIK PERTANIAN PADI BERKELANJUTAN

Loading

“Ada hal-hal yang menjadi tantangan dalam penerapan pertanian berkelanjutan salah satunya adalah terdapat common sense seperti pertanian berkelanjutan dapat menurunkan hasil produksi. Namun dalam praktiknya dari apa yang sudah kami coba di beberapa daerah bahwa pertanian bio-intesif nyatanya dapat meningkatkan hasil produksi dan terdapat pengurangan modal produksi.”

DIGITANI.IPB.AC.ID, Bogor – Bidang Pengembangan Tani dan Nelayan,Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University berkolaborasi dengan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menyelenggarakan Webinar Series #TNCTalks Episode 16 bertajuk berjudul “Beragam Jalan Menuju Pertanian Padi Berkelanjutan: Pembelajaran dari Petani, Tanggapan Ilmiah, dan Arah Dukungan Kebijakan”. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring tersebut diikuti oleh 858 peserta dari berbagai daerah dan kalangan.

Webinar ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan pembelajaran antara petani, praktisi, akademisi, peneliti, pemerintah, serta pemangku kepentingan lainnya mengenai beragam praktik pertanian padi berkelanjutan yang berkembang di tingkat lapangan. Kegiatan juga menjadi bagian dari upaya LPA2I IPB University dan KRKP untuk mempertemukan pengalaman petani dengan perspektif ilmiah dan kebijakan guna mendorong dukungan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi petani.

Kegiatan diawali dengan sambutan Koordinator Nasional KRKP, Said Abdullah, yang akrab disapa Ayip. Ia menekankan pentingnya pengakuan terhadap berbagai praktik lokal yang selama ini telah berkembang dan memiliki arah menuju pertanian berkelanjutan.

“Sebelum hadirnya diksi pertanian berkelanjutan, sudah ada praktik-praktik seperti organik, bio-intensif, alami maupun sawah pokok murah dan praktik lokal lainnya yang juga mengarah kepada pertanian berkelanjutan,” ujar Ayip.

Koordinator Nasional KRKP (Foto: LPA2I IPB)

Selanjutnya, kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala LPA2I IPB University, Dr. Handian Purwawangsa. Dalam sambutannya, Dr. Handian menyampaikan penghargaan kepada para narasumber dan pembahas yang berasal dari kalangan petani, praktisi, peneliti, dan pemerintah, serta seluruh mitra yang mendukung pelaksanaan kegiatan.

Dr. Handian menegaskan bahwa pertanian padi berkelanjutan merupakan isu yang sangat penting, terutama di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian saat ini, seperti perubahan iklim, penurunan kualitas sumber daya alam, dan meningkatnya biaya produksi yang berdampak langsung terhadap petani.

Menurutnya, keberlanjutan bukanlah konsep yang sepenuhnya baru. Berbagai praktik yang telah dikembangkan petani, mulai dari pertanian organik, pertanian alami, agroekologi, hingga Sustainable Rice Platform (SRP), menunjukkan bahwa terdapat beragam jalan yang dapat ditempuh menuju sistem pertanian yang lebih berkelanjutan.

Dr. Handian juga menekankan pentingnya mempertemukan pengalaman langsung para petani dengan perspektif ilmiah dan kebijakan. Melalui forum tersebut, berbagai pengalaman di lapangan diharapkan dapat memperkaya pemahaman sekaligus mendorong lahirnya dukungan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi petani.

Kepala LPA2I IPB University (Foto: LPA2I IPB)

Di akhir sambutannya, Dr. Handian menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, pembahas, mitra, panitia, dan peserta yang telah mendukung kegiatan. Ia kemudian secara resmi membuka Webinar Series #TNCTalks Episode 16.

Petani Berbagi Praktik Pertanian Berkelanjutan

Setelah sesi pembukaan, webinar dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman dari sejumlah praktisi yang menerapkan pendekatan berbeda dalam pertanian padi berkelanjutan. Narasumber pertama, Wardiyono selaku Ketua Sanggar Tani Klaten, memaparkan pengalaman mendorong adaptasi pertanian alami di Klaten.

Narasumber Wardiyono (Foto: LPA2I IPB)

Menurut Wardiyono, penerapan pertanian alami tidak hanya berfokus pada aspek produksi, tetapi juga berupaya menjawab berbagai persoalan yang dihadapi petani. Tantangan tersebut antara lain serangan hama dan penyakit, tingginya biaya operasional, rendahnya keuntungan petani, serta semakin sulitnya menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.

“Ada beberapa tantangan yang dihadapi saat ini seperti susah dalam budidaya, banyak hama penyakit tanaman, biaya operasional semakin tinggi, petani tidak untung, serta profesi petani tidak menarik, susah untuk menarik minat anak muda untuk dapat terjun dalam praktik budidaya pertanian padi,” ucap Wardiyono.

Selanjutnya, Tamrin Khamidi, salah satu inisiator pertanian bio-intensif di Kabupaten Tegal sekaligus lulusan Fakultas Pertanian IPB University, membagikan pengalamannya dalam mengembangkan praktik pertanian bio-intensif. Menurut Tamrin, pengetahuan pertanian perlu diwujudkan dalam praktik langsung agar dapat memberikan manfaat nyata bagi petani.

Salah satu praktik yang dikembangkan adalah pembuatan teh kompos sebagai upaya memperkaya keragaman dan kelimpahan mikroba dengan menambahkan biang mikroba selektif dan sumber karbon tambahan.

“Di Tegal, kami coba melakukan pembuatan teh kompos yaitu pengayaan mikroba (keragaman dan kelimpahan) dengan menambahkan biang mikroba selektif dan sumber karbon ekstra (molase/gula). Bahan baku untuk teh kompos ini sendiri terdiri dari pupuk kandang, rumput laut dan bahan organik lainnya,” jelas Tamrin.

Praktik berikutnya disampaikan oleh Adnan Abdillah, praktisi Sustainable Rice Platform (SRP) dari Kabupaten Sragen. Ia menjelaskan pentingnya proses memahami, menerapkan, mendorong, dan menjaga praktik pertanian yang telah dikembangkan.

Dalam pemaparannya, Adnan juga menekankan pentingnya efisiensi dan ketepatan penggunaan pupuk dalam budidaya padi.

“Kami coba menerapkan rekomendasi pupuk total 350 kg pupuk kimia per hektare. Dosis sebaiknya disesuaikan dengan hasil uji tanah, varietas, kondisi tanaman, dan rekomendasi setempat. Berikan pupuk pada waktu dan cara yang tepat; hindari penambahan dosis tanpa dasar rekomendasi,” pungkas Adnan.

Pengalaman pertanian organik kemudian disampaikan oleh Sriyanto, Ketua Kelompok Tani Sri Makmur di Sragen yang mulai menerapkan praktik pertanian berkelanjutan sejak 2013. Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran bersama mengenai lingkungan di tingkat kelompok tani.

“Untuk praktik di lapangan menerapkan penggunaan pupuk organik baik dalam bentuk padat maupun cair. Dalam hal pengendalian hama menggunakan pestisida hayati agar ekosistem terjaga sehingga musuh alami terkendali,” ujar Sriyanto.

Ia menambahkan bahwa pemanfaatan bahan organik yang tersedia di sekitar petani juga dapat membantu menekan biaya produksi.

“Biaya produksi bisa diminimalkan karena ketersediaan pupuk kompos ataupun pupuk kandang sangat melimpah. Hasil panen dikelola oleh APO, Asosiasi Petani Organik dengan kualitas yang baik,” tambahnya.

Sementara itu, Isra, salah satu praktisi Sawah Pokok Murah, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut berangkat dari upaya membantu petani menghasilkan pangan dengan biaya dan beban usaha yang lebih rendah, sekaligus mempertimbangkan masa depan pertanian.

“Semangat kami dalam mendorong Sawah Pokok Murah adalah bagaimana agar petani dapat berproduksi dengan biaya, usaha dan pikiran seminimal mungkin. Di sisi lain, kita juga harus sudah mulai untuk memikirkan masa depan pertanian, yang mana lahan semakin tergerus karena penggunaan input yang semakin tinggi. Ini tentu akan berdampak bagi masa depan pertanian,” jelas Isra.

Menurut Isra, praktik Sawah Pokok Murah tidak hanya diterapkan di daerah asalnya di Sumatera Barat, tetapi telah mulai dipraktikkan di berbagai daerah lainnya.

“Sawah Pokok Murah tidak hanya coba dipraktikkan di Sumatera Barat tempat kelahirannya. Namun sudah coba dipraktikkan di daerah-daerah lain seperti Jawa Timur maupun Jawa Barat,” pungkas Isra.

Praktik Lokal Perlu Diakui dalam Kebijakan

Setelah sesi berbagi pengalaman dari para praktisi, webinar dilanjutkan dengan sesi pembahasan yang dipandu oleh moderator W.R. Nanta. Sesi ini menghadirkan Dr. Inez Slamet-Loedin dari International Rice Research Institute (IRRI), Dr. Rina Hapsari dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Dekan Fakultas Pertanian IPB University Prof. Suryo Wiyono, serta Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Prof. Damayanti Buchori.

Dr. Inez Slamet-Loedin menilai berbagai praktik lokal yang telah mengarah pada pertanian berkelanjutan perlu mendapat ruang dalam kebijakan. Menurutnya, dukungan regulasi, aturan yang jelas, dan insentif menjadi penting untuk mendorong lebih banyak petani melakukan transisi menuju sistem pertanian berkelanjutan.

“Sustainability atau sistem pertanian berkelanjutan bukan satu teknologi, tetapi cara bertani dengan hasil yang dapat diukur. Dan perlu diingat bahwa SRP tidak identik dengan satu metode seperti SRI atau Jajar Legowo. Praktik lokal dapat berbeda; yang penting adalah persyaratan dan dampaknya dapat diukur,” ucap Inez.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Prof. Suryo Wiyono. Ia menilai pertanian berkelanjutan memiliki peluang untuk diperluas, terutama dengan menghilangkan anggapan bahwa penerapan prinsip keberlanjutan selalu berdampak pada penurunan produksi.

Pembahas Prof. Suryo Wiyono (Foto: LPA2I IPB)

“Ada hal-hal yang menjadi tantangan dalam penerapan pertanian berkelanjutan, salah satunya adalah terdapat common sense seperti pertanian berkelanjutan dapat menurunkan hasil produksi. Namun dalam praktiknya dari apa yang sudah kami coba di beberapa daerah bahwa pertanian bio-intensif nyatanya dapat meningkatkan hasil produksi dan terdapat pengurangan modal produksi,” jelas Prof. Suryo.

Dari sisi kebijakan dan standardisasi, Dr. Rina Hapsari menjelaskan bahwa BRMP bersama sejumlah pemangku kepentingan nasional tengah mendorong penyusunan standardisasi beras berkelanjutan. Upaya ini diharapkan dapat menjadi salah satu fondasi dalam memperkuat pengembangan sistem pertanian padi berkelanjutan di Indonesia.

Sementara itu, Prof. Damayanti Buchori yang hadir melalui rekaman video menekankan pentingnya mempertahankan keberagaman dalam praktik pertanian. Menurutnya, berbagai praktik lokal merupakan bagian dari kekayaan sistem pertanian yang perlu dihargai dan dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan.

Webinar ini menunjukkan tingginya perhatian terhadap isu pertanian padi berkelanjutan sekaligus pentingnya ruang dialog antara pengalaman petani, pengetahuan ilmiah, dan arah kebijakan. Melalui kolaborasi LPA2I IPB University dan KRKP, berbagai pengalaman lokal diharapkan tidak hanya menjadi pembelajaran bagi sesama petani, tetapi juga dapat menjadi masukan dalam pengembangan kebijakan pertanian yang lebih adaptif terhadap keragaman kondisi dan praktik di lapangan.

Penulis: Suci Intani | Editor: Nurma

Tanya Pakar

powered by Advanced iFrame