Artikel

DAMPAK PENGGUNAAN ALAT TANGKAP DOGOL TERHADAP LINGKUNGAN PERAIRAN

DAMPAK PENGGUNAAN ALAT TANGKAP DOGOL TERHADAP LINGKUNGAN PERAIRAN
Artikel / Perikanan Tangkap

DAMPAK PENGGUNAAN ALAT TANGKAP DOGOL TERHADAP LINGKUNGAN PERAIRAN

Loading

Perairan Pangandaran dikenal memiliki potensi sumber daya hayati laut yang besar karena berhubungan langsung dengan Samudera Hindia. Kondisi ini menjadikan wilayah tersebut produktif untuk kegiatan perikanan tangkap. Namun, pemanfaatan yang tinggi tanpa diimbangi pengelolaan yang baik dapat menimbulkan tekanan serius terhadap lingkungan perairan. Aktivitas penangkapan ikan yang tidak memperhatikan prinsip keberlanjutan berisiko menyebabkan penurunan kualitas ekosistem laut serta berkurangnya sumber daya ikan.

Salah satu alat tangkap yang masih digunakan oleh nelayan di wilayah ini adalah jaring dogol, yang termasuk dalam kelompok pukat tarik. Alat tangkap ini memang dikenal cukup produktif, tetapi di sisi lain memiliki dampak terhadap lingkungan, terutama terkait rendahnya selektivitas tangkapan dan potensi kerusakan habitat dasar perairan. Oleh karena itu, penggunaan jaring dogol perlu dipahami tidak hanya dari sisi hasil tangkapan, tetapi juga dari dampaknya terhadap keberlanjutan ekosistem.

1. Karakteristik dan Cara Kerja Jaring Dogol

Jaring dogol dioperasikan dengan cara ditarik oleh kapal sehingga menyapu dasar perairan. Metode ini membuat alat tangkap bekerja secara aktif dan menangkap hampir semua organisme yang berada di jalur penangkapan. Tidak hanya ikan target, tetapi juga berbagai organisme lain ikut tertangkap sebagai hasil tangkapan sampingan.

Kondisi perairan Pangandaran yang relatif dangkal (sekitar 10–35 meter) merupakan habitat penting bagi ikan demersal untuk mencari makan, memijah, dan tumbuh. Akibatnya, banyak ikan berukuran kecil atau belum layak tangkap ikut tertangkap, sehingga menambah tekanan terhadap keberlanjutan sumber daya ikan.

2. Dampak terhadap Habitat Dasar Perairan

Penggunaan jaring dogol juga berdampak langsung pada kondisi dasar laut. Gesekan jaring dengan substrat berlumpur dapat merusak habitat organisme bentik yang hidup di dasar perairan. Padahal, habitat ini memiliki peran penting sebagai tempat hidup dan sumber makanan bagi berbagai biota laut.

Kerusakan habitat tersebut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Ketika habitat terganggu, maka rantai makanan dan struktur komunitas organisme laut juga ikut terdampak. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan produktivitas perairan secara keseluruhan.

3. Selektivitas Rendah dan Ancaman bagi Stok Ikan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar tangkapan jaring dogol masih berada di bawah ukuran layak tangkap. Artinya, ikan yang tertangkap belum sempat berkembang biak. Hal ini menjadi masalah serius karena dapat menghambat proses regenerasi populasi ikan di alam.

Jika penangkapan ikan kecil terus berlangsung, maka dalam jangka panjang dapat terjadi penurunan stok ikan. Kondisi ini tidak hanya merugikan ekosistem, tetapi juga berdampak langsung pada keberlanjutan usaha perikanan itu sendiri.

4. Tangkapan Sampingan dan Efisiensi Pemanfaatan

Sebagian besar hasil tangkapan jaring dogol memang dimanfaatkan, tetapi masih terdapat tangkapan yang dibuang. Tingginya jumlah tangkapan sampingan yang tidak termanfaatkan menunjukkan bahwa alat tangkap ini belum sepenuhnya efisien dan ramah lingkungan.

Semakin banyak hasil tangkapan yang terbuang, semakin besar pula pemborosan sumber daya yang terjadi. Oleh karena itu, optimalisasi pemanfaatan hasil tangkapan menjadi langkah penting dalam mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan perairan.

Secara keseluruhan, penggunaan alat tangkap dogol memiliki dampak yang cukup besar terhadap lingkungan perairan, mulai dari rendahnya selektivitas tangkapan hingga potensi kerusakan habitat dasar laut. Jika tidak dikelola dengan baik, penggunaan alat tangkap ini dapat mempercepat penurunan kualitas ekosistem dan mengancam keberlanjutan sumber daya perikanan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan perikanan yang lebih bijak dan berkelanjutan. Evaluasi penggunaan alat tangkap, peningkatan kesadaran nelayan, serta penerapan teknologi penangkapan yang lebih ramah lingkungan menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan kelestarian sumber daya perairan.

Penulis: Zaky Muhamad Pratama | Editor: Muhammad Yudistira

 

Tanya Pakar

powered by Advanced iFrame