Artikel

TNC IPB UNIVERSITY DUKUNG PROGRAM MAKAN BERGIZI UNTUK KESEJAHTERAAN EKONOMI PETANI

makan bergizi gratis - badan gizi nasional - dadan hindayana - tani nelayan center ipb university
Berita / Siaran Pers

TNC IPB UNIVERSITY DUKUNG PROGRAM MAKAN BERGIZI UNTUK KESEJAHTERAAN EKONOMI PETANI

“Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap makan bergizi gratis, tetapi juga mendorong kesejahteraan petani melalui penguatan produksi dan distribusi hasil pertanian yang berkualitas.”

DIGITANI.IPB.AC.ID, Bogor – Tani dan Nelayan Center (TNC) IPB University menyelenggarakan Webinar Series #TNCTalksE08 bertajuk “Program Makan Bergizi dan Pemberdayaan Ekonomi Petani” pada Kamis (6/3) melalui Zoom Meeting dan live streaming YouTube. Acara ini turut dihadiri oleh 300 peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

Webinar ini menghadirkan narasumber dari berbagai pihak, seperti Dr. Ir Dadan Hindayana selaku Kepala Badan Gizi Nasional dan Dr. Nicolaus Noywuli, S.TP, MSi. selaku Rektor Sekolah Tinggi Pertanian Flores Bajawa. Selain itu, kegiatan ini turut menghadirkan seorang petani dari Yogyakarta, Suparjiyem, serta seorang petani muda dari Nusa Tenggara Timur, Maria Mone Soge.

Prof. Dr. Ir. Hermanu Triwidodo, M.Sc., selaku Kepala TNC IPB University menyampaikan dalam sambutannya bahwa sangat mengapresiasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Maka dari itu, webinar ini diadakan sebagai ruang pertemuan dan diskusi bersama terkait program makan bergizi yang harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi petani.

Prof Hermanu selaku Kepala TNC IPB University (Foto: Tani dan Nelayan Center)

“Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap makan bergizi gratis, tetapi juga mendorong kesejahteraan petani melalui penguatan produksi dan distribusi hasil pertanian yang berkualitas,” ujar Prof. Hermanu.

Lebih lanjut, Prof. Hermanu juga membagikan pengalamannya mengenai budaya makan bersama yang telah berlangsung sejak tahun 1960-an serta pembelajaran dari program yang sama di Jepang. Bahwasanya program makan bergizi tidak hanya sebatas pemberian makan gratis, tetapi juga dapat membangun kebersamaan dan tanggung jawab di kalangan pelajar.

Penerapan Program Makan Bergizi Gratis dalam Pemberdayaan Ekonomi Petani

Kepala Badan Gizi Nasional, Dr. Ir. Dadan Hindayana, menyampaikan materi mengenai pentingnya penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia serta kebijakan dalam pemberdayaan petani sebagai mitra dalam pelaksanaan program MBG.

Dr Dadan selaku Kepala Badan Gizi Nasional (Foto: Tani dan Nelayan Center)

Pada materinya, Dr. Dadan memulai dengan data jumlah kependudukan di Indonesia, mencakup rata-rata jumlah anggota rumah tangga dan lama sekolah serta bagaimana meningkatkan potensi optimal pertumbuhan dan perkembangan anak.

Dr. Dadan menekankan bahwa MBG adalah langkah strategis menuju Indonesia Emas, dengan tujuan menghasilkan generasi berkualitas yang kompetitif di tingkat global. Namun, ia juga mengingatkan bahwa program ini menggunakan anggaran yang besar, di mana 95 persen bahan bakunya berasal dari komoditas pertanian. Oleh karena itu, sekitar 80 persen anggaran yang digelontorkan untuk MBG harus digunakan untuk pembelian bahan baku pangan dari petani lokal.

Selain itu, Dr. Dadan menjelaskan bahwa Badan Gizi Nasional juga berencana mempercepat pembentukan Unit Layanan Pemenuhan Gizi, yaitu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia, dengan target mencapai 30.000 unit pada akhir tahun 2025. Program MBG masih dalam tahap bertahap dan dalam pelaksanaan di lapangan sangat bergantung pada kesiapan mitra yang dapat bekerja sama dengan Badan Gizi Nasional.

“Mitra sangat penting dalam keberhasilan Program Makan Bergizi (MBG) karena mereka berperan sebagai pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pemasok bahan pangan lokal, dan penyedia makanan bergizi, yang mendukung program pemerintah dalam menyediakan makan siang bergizi bagi anak-anak. Program One Village, One Red and White Village Cooperative juga akan diluncurkan untuk mengoordinasikan bisnis pertanian lokal agar dapat memenuhi kebutuhan MBG secara berkelanjutan,” ujar Dr. Dadan.

Dr Nicolaus selaku Rektor Sekolah Tinggi Pertanian Flores Bajawa (Foto Tani dan Nelayan Center)

Dr. Nicolaus Noywuli dalam presentasinya lebih banyak membahas bagaimana implementasi MBG di Nusa Tenggara Timur (NTT). “Saat ini baru menyasar siswa sekolah di ibu kota yang dilayani oleh 17 SPPG dengan total penerima manfaat sebanyak 50.340 siswa atau sekitar 4 persen dari total sasaran,” ungkap Dr. Nicolaus Noywuli.

“Namun, program ini menghadapi kendala terkait ketersediaan bahan baku serta beberapa protes dari siswa dan orang tua mengenai penyajian makanan yang kurang sesuai. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya evaluasi berkala untuk menjamin keberlanjutan program dan keterlibatan petani lokal sebagai mitra utama,” lanjutnya.

Tanggapan Petani dalam Penerapan Program Makan Bergizi Gratis

Suparjiem, seorang petani dari Yogyakarta menyampaikan bahwa dirinya sangat menyambut baik program MBG ini karena memberikan peluang bagi petani sebagai pemasok bahan pangan. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada semangat awal saja saat memulai pelaksanaan program MBG, tetapi juga perlu ada pembenahan sistem di tingkat konsumen dan distribusi dengan evaluasi secara berkelanjutan.

Sementara itu, petani perlu diberikan pendampingan oleh penyuluh pertanian atau pihak terkait untuk memastikan keterlibatan yang optimal. “Perlu pembenahan regulasi aja yang yang sekiranya petani dapat menerima manfaat baik program yang tidak hanya petani sebagai penonton. Saya harap program ini dapat melibatkan kader-kader di tingkat desa atau kelompok tani dalam masa tanam jangka pendek maupun panjang,” ungkap Suparjiem.

“Mengkoordinir petani itu tidak segampang dengan mengkoordinir pemerintahan, maka perlu teknis dan semacam keahlian tersendiri,” lanjutnya.

Sependapat dengan Suparjiem, Maria Mone Soge, petani muda asal Nusa Tenggara Timur (NTT), menilai MBG sebagai langkah strategis pemerintah dalam mengatasi masalah gizi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Beberapa daerah di NTT bahkan telah mengintegrasikan program ini dengan teknologi digital untuk memetakan kebutuhan masyarakat, mengelola logistik, dan menghubungkan petani lokal dengan penyelenggara program.

Namun, ia menyoroti bahwa implementasi MBG masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam diversifikasi pangan. “Kami di NTT memiliki potensi pangan yang sangat beragam. Tidak seharusnya kita hanya berfokus pada satu jenis pangan, seperti beras. Pangan lokal seperti sorgum dan jagung juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat alternatif, begitu pula dengan sumber protein lainnya,” ujar Maria.

“Sinergi dari semua pihak sangat dibutuhkan, agar petani lokal tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi aktor utama dalam penyelenggaraan program ini,” lanjutnya.

Harapan dan Rekomendasi dari Pemangku Kepentingan dan Petani Setempat

Sebagai penutup, moderator acara, Widya Hasian Situmeang, S.KPm., M.Si., yang juga merupakan Dosen Program Studi Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian, Sekolah Vokasi IPB University, memberikan kesempatan kepada narasumber dan penanggap untuk menyampaikan pernyataan penutup.

Dr. Dadan menegaskan bahwa Program Makan Bergizi merupakan bagian dari strategi besar dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Program ini bertujuan untuk menciptakan SDM yang berkualitas, karena generasi saat ini yang masih bersekolah akan menjadi tenaga kerja produktif dalam dua puluh tahun ke depan. Ia berharap bahwa kelompok tersebut dapat menjadi tenaga kerja yang kompetitif dan berkualitas di masa depan.

Dr. Nicolaus menekankan bahwa keberhasilan program ini membutuhkan komitmen dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat hingga daerah, agar dapat terwujud dengan sukses dan berkelanjutan. Ia juga mengungkapkan bahwa permintaan akan hasil produksi pertanian dipastikan akan meningkat dengan berjalannya Program MBG. Hal ini akan menciptakan dampak ekonomi yang signifikan, termasuk efek pengganda yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di NTT.

Suparjiem mengingatkan bahwa distribusi makanan bergizi harus tepat sasaran, terutama bagi anak-anak yang mengalami stunting atau memiliki kebutuhan khusus. Oleh karena itu, pengelolaan dapur dan penyajian makanan harus dilakukan secara selektif agar sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat.

Maria menekankan pentingnya membudidayakan pangan lokal yang organik dan beragam. Ia berharap anak muda dapat lebih dilibatkan dalam program ini, tidak hanya sebagai penyedia bahan pangan, tetapi juga sebagai aktor utama dalam sistem pangan lokal.

Penulis: Susanti Rahayu Violita | Editor: Nurma Wibi Earthany

Tanya Pakar