Artikel

PERSIAPAN LAHAN YANG OPTIMAL UNTUK BUDIDAYA CABAI

IPB DIGITANI - TANI DAN NELAYAN CENTER IPB UNIVERSITY - PERSIAPAN LAHAN YANG OPTIMAL UNTUK BUDIDAYA CABAI
Artikel / Pertanian

PERSIAPAN LAHAN YANG OPTIMAL UNTUK BUDIDAYA CABAI

Loading

Kegiatan sanitasi lahan cabai pada kegiatan Program Mahasiswa Petani Tangguh | Foto: Dok. Tani dan Nelayan Center IPB University (2025)

Penyiapan lahan merupakan langkah awal yang sangat menentukan dalam keberhasilan budidaya cabai (Capsicum annuum L.). Tahap ini memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan tumbuh yang sehat, mendukung pertumbuhan optimal tanaman, serta mengurangi risiko serangan hama dan penyakit.

Oleh karena itu, penanganan yang tepat sejak awal sangat disarankan bagi petani maupun pelaku budidaya cabai skala rumah tangga dan komersial.

1. Pemilihan Lokasi dan Jenis Tanah

Langkah pertama dalam penyiapan lahan adalah memilih lokasi yang sesuai. Tanaman cabai membutuhkan sinar matahari penuh selama minimal 8 jam per hari. Lokasi terbuka dan bebas naungan sangat disarankan agar fotosintesis berlangsung maksimal.

Jenis tanah yang ideal untuk budidaya cabai adalah tanah lempung berpasir yang gembur, memiliki drainase baik, dan pH tanah berkisar antara 5,5 hingga 6,8. Tanah dengan karakteristik ini mendukung pertumbuhan akar yang sehat dan mencegah genangan air yang bisa menyebabkan pembusukan.

2. Pembersihan dan Pengolahan Lahan

Setelah lokasi ditentukan, langkah selanjutnya adalah membersihkan lahan dari gulma, sisa-sisa tanaman sebelumnya, serta sampah organik dan anorganik. Kehadiran gulma tidak hanya mengganggu pertumbuhan cabai tetapi juga berpotensi menjadi inang bagi berbagai jenis hama dan penyakit.

Pengolahan tanah dilakukan dengan mencangkul atau membajak sedalam 20–30 cm. Tujuannya adalah untuk memperbaiki struktur tanah dan memutus siklus hidup organisme patogen yang tertinggal dari musim tanam sebelumnya. Setelah diolah, tanah dibiarkan mengering dan terkena sinar matahari selama 1–2 minggu. Proses ini berfungsi sebagai sanitasi alami yang membantu menekan populasi mikroorganisme penyebab penyakit.

3. Penyesuaian pH Tanah (Pengapuran)

Jika hasil uji tanah menunjukkan tingkat keasaman yang tinggi (pH < 5,5), maka diperlukan tindakan pengapuran menggunakan dolomit atau kapur pertanian. Pengapuran dilakukan 2–3 minggu sebelum tanam dengan dosis sekitar 1–2 ton per hektar, tergantung kondisi tanah. Langkah ini bertujuan untuk menetralkan keasaman tanah serta meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman.

4. Pembuatan Bedengan dan Penggunaan Mulsa

Bedengan dibuat untuk menghindari genangan air dan memperbaiki aerasi tanah. Ukuran bedengan yang disarankan adalah lebar 100–120 cm, tinggi 20–30 cm, dan jarak antarbedengan sekitar 40–60 cm.

Penggunaan mulsa plastik hitam perak sangat dianjurkan. Selain berfungsi menekan pertumbuhan gulma, mulsa juga membantu menjaga kelembapan tanah dan menstabilkan suhu, yang sangat penting bagi pertumbuhan optimal tanaman cabai.

5. Pemupukan Dasar

Pemupukan dasar sangat penting untuk memastikan ketersediaan nutrisi sejak awal pertumbuhan. Gunakan pupuk organik seperti pupuk kandang atau kompos sebanyak 10–20 ton per hektar. Pemupukan ini bisa dikombinasikan dengan pupuk anorganik seperti NPK sesuai kebutuhan dan hasil analisis tanah. Pupuk organik tidak hanya memberikan unsur hara, tetapi juga memperbaiki struktur dan aktivitas mikrobiologi tanah.

6. Penyiraman Awal dan Perlakuan Tambahan

Sebelum bibit ditanam, lahan sebaiknya diairi terlebih dahulu agar tanah dalam kondisi cukup lembap. Dalam kondisi tertentu, terutama di lahan yang pernah terinfeksi patogen tanah, dapat dilakukan solarisasi (penutupan permukaan tanah dengan plastik bening selama beberapa minggu) atau perlakuan fungisida untuk menekan keberadaan organisme penyebab penyakit.

Penulis: Jovita Elizabeth Lumban Toruan | Editor: Rahel Azzahra

Tanya Pakar

powered by Advanced iFrame