PASTEURELLOSIS: PENYEBAB KEMATIAN MENDADAK PADA TERNAK YANG PERLU DIWASPADAI
PASTEURELLOSIS: PENYEBAB KEMATIAN MENDADAK PADA TERNAK YANG PERLU DIWASPADAI
![]()
Dalam sektor peternakan, terdapat sejumlah penyakit yang dapat muncul secara tiba-tiba dan menyebabkan kematian ternak dalam waktu singkat. Salah satunya adalah Pasteurellosis, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella spp. Penyakit ini kerap tidak terdeteksi sejak awal, padahal berpotensi menimbulkan kerugian besar pada usaha ternak sapi, kerbau, kambing, domba, ayam, itik, hingga kelinci.
Bakteri Pasteurella sebenarnya dapat ditemukan di lingkungan maupun di tubuh hewan, terutama pada saluran pernapasan bagian atas. Dalam kondisi normal, bakteri ini tidak selalu menimbulkan penyakit. Namun, saat ternak mengalami stres misalnya akibat perubahan cuaca ekstrem, kepadatan kandang, kualitas pakan yang kurang baik, perjalanan jauh, atau sanitasi kandang yang buruk daya tahan tubuh hewan menurun dan bakteri dapat berkembang menjadi penyebab infeksi serius.
Penularan Pasteurellosis dapat terjadi melalui udara, air minum, pakan yang tercemar, kotoran, bangkai ternak, serta kontak langsung dengan hewan sakit. Serangga, tikus, dan burung liar juga berperan sebagai pembawa bakteri antar lokasi. Oleh karena itu, penyakit ini lebih sering muncul pada sistem pemeliharaan dengan manajemen kebersihan yang kurang optimal.

Gejala pada Berbagai Jenis Ternak
Pada sapi dan kerbau, Pasteurellosis dikenal sebagai penyakit ngorok atau septicemia epizootika. Ternak yang terinfeksi umumnya mengalami demam tinggi, lemas, keluar cairan dari hidung dan mulut, pembengkakan di daerah leher, gangguan pernapasan, hingga kematian mendadak. Di sejumlah wilayah Asia dan Afrika, penyakit ini menjadi salah satu penyebab utama kerugian ekonomi pada peternakan ruminansia besar.
Pada unggas seperti ayam, itik, dan kalkun, infeksi ini dikenal sebagai kolera unggas. Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebar dengan cepat dalam satu kandang. Gejala yang sering muncul meliputi lesu, penurunan nafsu makan, bulu berdiri, diare, sesak napas, serta kematian tanpa tanda klinis yang jelas. Tanpa penanganan cepat, angka kematian dapat meningkat drastis dalam waktu singkat.
Penanganan dan Pencegahan
Diagnosis Pasteurellosis umumnya memerlukan pemeriksaan laboratorium oleh tenaga kesehatan hewan. Namun, bagi peternak, langkah terpenting adalah mengenali gejala awal dan segera melaporkan jika terjadi kematian tidak wajar.
Pencegahan menjadi strategi utama dalam mengendalikan penyakit ini. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
-
Menjaga kebersihan dan sanitasi kandang
-
Rutin membersihkan tempat pakan dan minum
-
Mengendalikan populasi tikus dan serangga
-
Segera mengubur atau memusnahkan bangkai ternak sesuai prosedur
-
Membatasi keluar-masuk orang dan kendaraan ke area kandang
Pada beberapa jenis ternak seperti sapi, kerbau, dan unggas, vaksin Pasteurellosis telah tersedia dan sangat dianjurkan, terutama di daerah endemis atau rawan kasus.
Meskipun jarang menular ke manusia, Pasteurellosis tetap menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan usaha peternakan. Dengan manajemen kandang yang baik, penerapan biosekuriti, serta kewaspadaan terhadap tanda-tanda klinis, risiko kerugian akibat penyakit ini dapat ditekan dan produktivitas ternak tetap terjaga.
Penulis: Syifa Marsyaputri Alimudin | Editor: Muhammad Yudistira