Artikel

LPA2I IPB DUKUNG PENGUATAN KAPASITAS PETANI MELALUI FGD MASYARAKAT SADAR PANGAN DAN NUTRISI TANAMAN

LPA2I IPB DUKUNG PENGUATAN KAPASITAS PETANI MELALUI FGD MASYARAKAT SADAR PANGAN DAN NUTRISI TANAMAN
Berita

LPA2I IPB DUKUNG PENGUATAN KAPASITAS PETANI MELALUI FGD MASYARAKAT SADAR PANGAN DAN NUTRISI TANAMAN

Loading

DIGITANI.IPB.AC.ID – Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University mendukung pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Masyarakat Sadar Pangan dan Nutrisi Tanaman. Kegiatan yang diselenggarakan oleh BEM Keluarga Mahasiswa IPB University ini berlangsung pada Rabu (1/7) di Gapoktan Mandiri Jaya, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, dan diikuti oleh 61 peserta yang terdiri atas anggota Poktan Setia, Poktan Hurip, KWT Melati, KWT Dahlia, serta mahasiswa IPB University.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pengabdian kepada masyarakat, LPA2I IPB menghadirkan Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Dr. Ir. Arief Hartono, M.Sc. Agr., sebagai narasumber utama. Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi cucurak sebagai ajang membangun keakraban antara peserta, panitia, dan narasumber, kemudian dilanjutkan dengan seminar, Focus Group Discussion (FGD), presentasi hasil diskusi, hingga penutupan.

Pada pemaparannya, Prof. Arief menjelaskan bahwa tantangan pertanian saat ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan hasil panen, tetapi juga bagaimana menjaga kesehatan tanah agar tetap produktif dalam jangka panjang. Menurutnya, penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dapat menurunkan kualitas tanah sehingga diperlukan upaya untuk mengembalikan kesuburan melalui pemanfaatan pupuk organik.

“Selama ini kita lebih sering fokus memberi makan tanaman, padahal tanah juga harus dijaga kesehatannya. Kalau tanahnya sehat, tanaman akan tumbuh lebih baik dan produktivitasnya bisa dipertahankan dalam jangka panjang,” ujar Prof. Arief di hadapan peserta.

Ia kemudian memperkenalkan pupuk organik cair (POC) sebagai salah satu solusi yang dapat dibuat secara mandiri oleh masyarakat dengan memanfaatkan limbah organik seperti sisa sayuran, buah-buahan, kotoran ternak, maupun bahan organik lain yang tersedia di lingkungan sekitar. Menurutnya, pemanfaatan sumber daya lokal tersebut tidak hanya mampu menekan biaya produksi, tetapi juga mengurangi limbah sekaligus memperbaiki kualitas tanah.

“Bahan bakunya sebenarnya ada di sekitar kita. Yang diperlukan adalah memahami proses fermentasinya dengan benar agar mikroorganisme dapat bekerja optimal dan menghasilkan pupuk yang berkualitas,” jelasnya.

Suasana diskusi berlangsung interaktif ketika peserta mulai menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi di lapangan, mulai dari keterbatasan pupuk subsidi, menurunnya kualitas lahan, hingga sulitnya memanfaatkan limbah organik sebagai pupuk alternatif. Menanggapi hal tersebut, Prof. Arief menegaskan bahwa setiap daerah memiliki potensi yang berbeda sehingga solusi pertanian juga harus disesuaikan dengan kondisi setempat.

“Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan membeli input dari luar. Potensi lokal yang ada di desa justru bisa menjadi solusi apabila dikelola dengan ilmu pengetahuan dan inovasi yang tepat,” ungkapnya.

Sesi FGD kemudian menjadi wadah bagi peserta untuk mengidentifikasi berbagai persoalan pertanian di Desa Cikarawang sekaligus menggali potensi sumber daya yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk alternatif. Dari hasil diskusi tersebut diperoleh berbagai masukan mengenai kondisi pertanian setempat yang akan menjadi dasar penyusunan konsep inovasi pupuk berbasis potensi lokal dan akan dikembangkan pada rangkaian kegiatan MAPAN Vol.2.

Selain membahas inovasi pupuk, peserta juga berdiskusi mengenai persoalan irigasi, alih fungsi lahan pertanian, serta akses terhadap pupuk subsidi. Prof. Arief mendorong masyarakat untuk terus membangun kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan agar solusi yang dihasilkan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga didukung oleh kebijakan yang tepat.

Melalui dukungan terhadap kegiatan ini, LPA2I IPB University kembali menegaskan perannya sebagai penghubung antara kepakaran akademik dan kebutuhan masyarakat. Kehadiran narasumber dari IPB University diharapkan mampu memperkuat kapasitas petani dalam mengelola sumber daya lokal, mendorong lahirnya inovasi yang aplikatif, serta mendukung terwujudnya sistem pertanian yang lebih produktif, mandiri, dan berkelanjutan.

Penulis: Nurma Wibi Earthany | Editor: Jonathan Octo Ricardo Marpaung

Tanya Pakar

powered by Advanced iFrame