Artikel

JANGAN TANAM DULU! INI TIGA LANGKAH PENTING SEBELUM BERTANI

JANGAN TANAM DULU! INI TIGA LANGKAH PENTING SEBELUM BERTANI
Artikel / Pertanian

JANGAN TANAM DULU! INI TIGA LANGKAH PENTING SEBELUM BERTANI

Loading

Kegiatan persiapan dan pencatatan kondisi lahan pada Program Mahasiswa Petani | Foto: Dok. Tani Nelayan Center IPB University (2025)

Lahan pertanian bukan sekadar tanah kosong. Ia adalah tempat hidup tanaman yang terdiri dari berbagai unsur seperti tanah, air, udara, dan tumbuhan, yang semuanya saling berperan dalam mendukung pertumbuhan. Namun, banyak orang mengira bahwa proses bertani dimulai saat benih ditanam. Padahal, tahap paling penting justru terjadi sebelumnya: menyiapkan lahan dengan baik. Tanah yang tidak dipersiapkan bisa padat, miskin unsur hara, terlalu asam atau basa, bahkan menyimpan hama dan penyakit. Jika dibiarkan, tanaman akan tumbuh lambat, hasilnya rendah, dan risiko kerugian meningkat.

Sebelum mulai menanam, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan agar lahan benar-benar siap. Di antaranya adalah mengetahui riwayat penggunaan lahan sebelumnya, menilai tingkat kesuburan dan struktur tanah, serta pengukuran bedengan secara tepat. Ketiganya saling berkaitan dan akan sangat menentukan keberhasilan budidaya. 

Menelusuri Sejarah Lahan Sebelum Bertanam

Langkah pertama dalam persiapan lahan yang sering diabaikan, namun sangat penting, adalah melakukan kajian terhadap sejarah lahan. Mengetahui riwayat penggunaan lahan sebelum dijadikan area budidaya pertanian sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi potensi dan ancaman terhadap tanaman.

Misalnya, lahan bekas industri atau perkebunan komersial biasanya mengandung residu logam berat, pestisida kimia sintetis, atau senyawa beracun lainnya yang bisa mengganggu pertumbuhan tanaman. Lahan seperti ini tidak bisa langsung digunakan karena justru dapat merugikan petani. Diperlukan proses perbaikan kondisi tanah, seperti fitoremediasi, pengapuran, atau pemberian bahan organik dengan kandungan tinggi agar tanah kembali layak untuk ditanami.

Contoh lainnya adalah ladang bekas pertanian yang pernah terserang hama atau penyakit dalam tingkat tinggi. Lahan semacam ini cukup berisiko karena kemungkinan serangan hama atau penyakit bisa terjadi lagi. Untuk mengatasinya, beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah rotasi tanaman atau memilih varietas yang tahan terhadap kondisi tersebut.

Oleh karena itu, sebelum mulai bertanam, penting untuk melakukan observasi lapangan secara menyeluruh. Tanyakan pada pemilik atau pengguna lahan sebelumnya, serta gali informasi dari warga sekitar. Jika masih ragu, uji laboratorium bisa menjadi pilihan untuk mengetahui kondisi tanah, termasuk kandungan logam berat, tingkat keasaman (pH), serta keberadaan organisme pengganggu tanaman seperti cendawan atau serangga.

Memahami Kesuburan dan Kesesuaian Tanah Sebelum Bertanam

Tanah yang subur sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil panen tanaman. Kesuburan tanah berarti kemampuan tanah menyediakan unsur hara penting dalam jumlah yang cukup dan seimbang.

Kesuburan tanah terbagi menjadi tiga: fisik, kimia, dan biologi. Tanah yang baik secara fisik, seperti tanah regosol yang gembur, belum tentu mengandung cukup nutrisi. Maka dari itu, tanah yang baik untuk bertani sebaiknya subur dari ketiga aspek tersebut.

Beberapa indikator penting yang bisa digunakan untuk menilai kesuburan tanah antara lain pH tanah, kandungan bahan organik, tekstur tanah, dan kadar unsur hara utama seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Faktor lain seperti drainase, aktivitas mikroorganisme, dan kelembaban tanah juga memengaruhi pertumbuhan tanaman.

Kondisi tanah yang buruk dapat menyebabkan gejala seperti daun menguning, pertumbuhan lambat, dan hasil panen minim. Struktur tanah yang padat atau rusak juga menghambat penyerapan air dan udara oleh akar, sehingga tanaman lebih rentan terhadap penyakit.

Namun, tanah yang subur saja belum cukup. Kesesuaian tanah untuk pertanian juga dipengaruhi oleh iklim, curah hujan, dan kondisi geografis. Perubahan iklim seperti cuaca ekstrem dan musim tidak menentu bisa menurunkan hasil panen serta memicu serangan hama dan penyakit.

Memastikan lahan yang digunakan tidak hanya subur, tetapi juga sesuai dengan jenis tanaman dan kondisi lingkungan sekitar menjadi hal yang sangat penting. Dengan menanam pada lahan yang tepat, pertumbuhan tanaman akan lebih optimal dan risiko gagal panen dapat dikurangi.

Pentingnya Mengukur Luas Bedengan dalam Pengelolaan Lahan Pertanian

Mengukur luas bedengan merupakan langkah penting dalam pengelolaan lahan pertanian. Pengukuran ini membantu petani memanfaatkan lahan secara maksimal tanpa menyisakan ruang yang tidak terpakai. Dengan mengetahui ukuran bedengan secara tepat, petani dapat menghitung jumlah lubang tanam atau jumlah tanaman yang bisa ditanam di suatu area.

Hal ini sangat berguna untuk menentukan kebutuhan benih atau bibit secara lebih efisien, sehingga dapat menghindari pemborosan. Selain itu, pengukuran yang akurat juga membantu dalam perencanaan pemupukan dan penyemprotan pestisida dengan dosis yang tepat. Menurut Santika Pemakaian pupuk dan pestisida sesuai takaran tidak hanya menghemat biaya, tapi juga mengurangi risiko pencemaran air akibat kelebihan nutrisi atau zat kimia. Dengan demikian, praktik pertanian bisa berjalan lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Tak kalah penting, pengukuran luas bedengan juga berguna untuk mengatur jarak tanam antar bibit. Jika jaraknya terlalu rapat, tanaman bisa saling berebut cahaya matahari, air, dan nutrisi. Akibatnya, pertumbuhan tanaman menjadi kurang optimal. Dengan pengaturan jarak tanam yang tepat, tanaman bisa tumbuh lebih sehat dan hasil panen pun bisa meningkat.

Persiapan lahan bukan sekadar rutinitas awal, tetapi langkah penting yang menentukan keberhasilan bertani. Dari pengukuran bedengan, penilaian kesuburan tanah, riwayat lahan, hingga faktor iklim, semua saling berkaitan membentuk sistem budidaya yang sehat dan efisien. Lahan yang dipersiapkan dengan baik akan membantu petani menghindari gagal tanam, mengurangi kerugian, serta menjaga keseimbangan lingkungan. Dengan memahami hal ini, petani tidak hanya menanam tanaman, tetapi juga harapan akan hasil panen yang optimal dan berkelanjutan.

Penulis: Davina Alyza | Editor: Indrajid 

 

Tanya Pakar

powered by Advanced iFrame