Artikel

INOVASI HIJAU DALAM PENGENDALIAN HAMA PERKEBUNAN

IPB DIGITANI - TANI DAN NELAYAN CENTER IPB UNIVERSITY - INOVASI HIJAU DALAM PENGENDALIAN HAMA PERKEBUNAN
Artikel / Hama dan Penyakit Tanaman / Pertanian

INOVASI HIJAU DALAM PENGENDALIAN HAMA PERKEBUNAN

Dalam dunia pertanian modern, inovasi hijau semakin menjadi fokus utama dalam upaya meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan agroekosistem. Salah satu aspek penting dalam inovasi hijau adalah penerapan pengendalian hayati dalam sistem perkebunan, terutama dalam menghadapi tantangan hama yang dapat merugikan hasil panen. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti pentingnya pendekatan ini dalam budidaya kelapa dan tebu sebagai solusi ramah lingkungan yang berkelanjutan.

Cara Kerja Inovasi Hijau dalam Pengendalian Hama

Inovasi hijau dalam pengendalian hama berfokus pada penggunaan musuh alami dan praktik ekologi untuk mengendalikan populasi hama tanpa merusak lingkungan. Pendekatan ini bertujuan untuk menekan populasi hama hingga berada pada tingkat yang tidak merugikan tanaman, bukan untuk memusnahkan seluruh spesies hama yang ada di dalam ekosistem. Beberapa metode utama yang digunakan dalam inovasi ini meliputi:

  1. Pemanfaatan Parasitoid dan Predator Alami
    • Pada perkebunan kelapa, pemanfaatan parasitoid telur, predator seperti semut rang-rang, laba-laba, dan katak hijau menjadi strategi utama dalam menekan populasi hama Sexava.
    • Untuk tebu, parasitoid seperti Telenomus spp., Trichogramma spp., dan Tetrastichus spp. mampu menyerang telur hama penggerek pucuk tebu dengan tingkat parasitisasi yang sangat tinggi (72-100%).
    • Predator alami seperti semut juga memiliki peran strategis dalam memangsa telur dan larva sebelum masuk ke dalam jaringan tanaman.
  2. Penggunaan Entomopatogen
    • Entomopatogen merupakan mikroorganisme yang dapat menginfeksi dan membunuh hama secara alami. Metode ini lebih aman dibandingkan dengan pestisida kimia yang dapat merusak lingkungan.
  3. Penerapan Polikultur dan Vegetasi Pendamping
    • Menanam tanaman sela seperti pala, vanili, dan talas di antara pohon kelapa membantu mengurangi populasi hama dengan menciptakan habitat yang mendukung keanekaragaman hayati.
    • Pada perkebunan tebu, menjaga vegetasi pendamping juga dapat meningkatkan populasi musuh alami dengan menyediakan tempat berlindung dan sumber pakan alternatif.
  4. Pengembangan Varietas Tahan Hama
    • BRIN juga mendorong penelitian untuk mengembangkan varietas tebu yang lebih tahan terhadap serangan hama. Varietas ini memiliki karakteristik morfologi, biokimia, dan fisiologi yang lebih baik dalam menghadapi hama.
Dampak Ekologis dan Ekonomi

Pendekatan inovasi hijau dalam pengendalian hama memiliki berbagai manfaat yang signifikan, baik dari segi ekologis maupun ekonomi.

  • Secara ekologis, metode ini membantu menjaga keseimbangan agroekosistem, mengurangi ketergantungan pada insektisida kimia, serta mendukung keanekaragaman hayati.
  • Secara ekonomi, penggunaan pengendalian hayati dapat meningkatkan kualitas hasil panen karena produk yang dihasilkan bebas dari residu pestisida, sehingga memiliki daya saing tinggi di pasar global yang semakin menuntut prinsip traceability (ketertelusuran) dan sustainability (keberlanjutan).

Dengan penerapan strategi inovasi hijau, Indonesia dapat meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa dan tebu secara lebih berkelanjutan. Melalui riset berkelanjutan dan dukungan dari para pemangku kepentingan, sistem pertanian berbasis ekologi dapat terus dikembangkan demi mencapai ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan.

Penulis: Rahel Azzahra | Editor: Rahel Azzahra

Tanya Pakar