Artikel

CEGAH SERANGAN HAMA TANAMAN CABAI DENGAN MULSA

CEGAH SERANGAN HAMA TANAMAN CABAI DENGAN MULSA 
Artikel / Pertanian

CEGAH SERANGAN HAMA TANAMAN CABAI DENGAN MULSA

Loading

Cabai (Capsicum spp.) merupakan salah satu komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi di Indonesia. Sayangnya, produksinya sering terkendala oleh serangan hama dan penyakit yang dapat menurunkan hasil panen secara signifikan. Untuk mengatasi tantangan ini, banyak petani mulai menerapkan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu strategi ramah lingkungan yang menggabungkan berbagai metode pengendalian secara terpadu. Salah satu teknik dalam PHT yang makin banyak diadopsi adalah penggunaan mulsa. Teknik ini terbukti membantu menekan serangan hama sekaligus mendukung kesehatan tanaman.

Penggunaan mulsa di budidaya cabai ternyata tidak hanya sekadar menjaga kelembapan tanah atau menekan gulma. Lebih dari itu, mulsa juga memiliki peran penting dalam menekan serangan hama dan penyakit secara alami. Manfaat ini muncul dari sejumlah mekanisme yang terjadi di sekitar tanaman. Mulsa dari bahan organik maupun plastik, ternyata punya banyak cara dalam membantu menekan serangan hama dan penyakit pada tanaman cabai.

Berikut beberapa cara mulsa membantu melindungi tanaman cabai dari Organisme Pengganggu Tanaman (OPT):

Modifikasi Iklim Mikro

Mulsa plastik, khususnya yang berwarna perak atau hitam perak (PHP), dapat mengubah suhu dan kelembapan tanah di sekitar tanaman. Peningkatan suhu tanah akibat penggunaan mulsa hitam bisa menghambat perkembangan patogen tular tanah tertentu. Sementara itu, mulsa organik seperti jerami menjaga kelembapan dan membantu menstabilkan suhu tanah agar tidak terlalu ekstrem. Lingkungan tanah yang lebih stabil membuat kondisi menjadi kurang mendukung bagi beberapa jenis hama.

Penghalang Fisik dan Pengurangan Inokulum

Mulsa juga berfungsi sebagai penghalang fisik yang mencegah spora patogen tular tanah menyebar ke bagian bawah tanaman, terutama saat hujan atau penyiraman. Hal ini bisa mengurangi sumber inokulum awal penyakit seperti antraknosa dan layu fusarium. Selain itu, mulsa menekan pertumbuhan gulma yang bisa menjadi inang alternatif bagi hama dan patogen. Dengan begitu, sumber penyebaran penyakit di sekitar tanaman bisa dikurangi secara signifikan.

Efek Repelen dan Disorientasi Hama

Mulsa plastik perak mampu memantulkan cahaya matahari, terutama spektrum ultraviolet. Pantulan ini dapat mengganggu orientasi serangga terbang seperti kutu kebul dan thrips yang merupakan vektor penyakit virus. Serangga-serangga ini akan kesulitan mengenali tanaman inang, sehingga penularan virus seperti penyakit kuning (Geminivirus) bisa ditekan. Efek ini sangat membantu dalam menurunkan tingkat serangan hama secara alami.

Penggunaan mulsa memberi manfaat tidak langsung bagi ketahanan tanaman. Dengan kelembapan yang terjaga, gulma yang berkurang, dan struktur tanah yang lebih baik (terutama jika menggunakan mulsa organik), tanaman cabai dapat tumbuh lebih sehat dan kuat. Tanaman yang tumbuh baik secara alami lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

Pemanfaatan mulsa bukanlah satu-satunya cara dalam mengendalikan hama dan penyakit. Agar hasilnya lebih maksimal dan berkelanjutan, mulsa perlu dikombinasikan dengan komponen lain dari Pengendalian Hama Terpadu (PHT), seperti penggunaan varietas tahan, kebersihan lahan, rotasi tanaman, pemanfaatan musuh alami, serta penggunaan pestisida nabati atau kimia secara bijak jika memang diperlukan. Selain itu, pemantauan kondisi tanaman dan populasi hama secara rutin tetap penting agar tindakan pengendalian bisa dilakukan tepat waktu dan tepat sasaran.

Penulis: Hotmansoh Gajah Manik | Editor: Indrajid

Tanya Pakar

powered by Advanced iFrame