CEGAH PENYAKIT DAN TINGKATKAN PRODUKSI DAUN BAWANG SAAT MUSIM HUJAN

CEGAH PENYAKIT DAN TINGKATKAN PRODUKSI DAUN BAWANG SAAT MUSIM HUJAN

Musim hujan membawa tantangan besar bagi petani bawang daun, terutama karena serangan penyakit yang disebabkan oleh kelembapan tinggi. Alternaria porri, penyebab bercak ungu, serta Pseudoperonospora cubensis, biang keladi embun bulu, adalah dua patogen utama yang menyerang bawang daun pada kondisi ini. Menurut Prof. Dr. Ir. Suryo Wiyono dari Fakultas Pertanian, IPB University, tingkat serangan bisa mencapai 100% jika hujan turun selama tujuh hari berturut-turut.
Serangan penyakit biasanya memuncak antara Oktober hingga Januari. Banyak petani memilih beralih menanam komoditas lain seperti kentang, tomat, atau cabai untuk menghindari risiko gagal panen. Selain bercak ungu dan embun bulu, bawang daun juga rentan terhadap busuk daun dan akar akibat cendawan Phytophthora infestans serta Fomes noxius.
Budidaya Intensif sebagai Solusi
Meskipun penuh tantangan, bawang daun masih bisa tumbuh produktif dengan budidaya yang tepat. Salah satu solusi yang diterapkan oleh petani adalah penggunaan pupuk organik dan pestisida nabati. Kotoran ayam menjadi sumber hara utama yang memperkaya tanah dan membantu mengendalikan pertumbuhan gulma.
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum melakukan budidaya intensif. Salah satunya adalah mempersiapkan lahan dengan membuat bedengan setinggi 30 cm, lebar 1,5 m, dan panjang yang disesuaikan dengan kondisi lahan. Setiap bedengan dipisahkan oleh parit selebar 30 cm untuk mengontrol drainase.
Sebelum menanam, aplikasikan 1 kg pupuk kandang per lubang tanam atau sekitar 1 ton per 1.000 m². Metode ini terbukti mengurangi pertumbuhan gulma sehingga mengurangi frekuensi penyiangan.
Jarak tanam menjadi aspek yang sama pentingnya. Menanam tiga benih dalam satu lubang tanam, dengan total 50 kg benih untuk 4.000 lubang tanam atau sekitar 12.000 tanaman menjadi salah satu contoh praktik budidaya yang dapat dilakukan. Untuk mengurangi kelembapan di musim hujan, jarak tanam dapat diperlebar menjadi 50 cm x 50 cm. Sementara di musim kemarau, jarak tanam dipadatkan menjadi 30 cm x 30 cm, sehingga total populasi tanaman meningkat menjadi 33.000 per 1.000 m².
Pestisida Nabati untuk Mengendalikan Penyakit Daun Bawang
Untuk mengatasi serangan penyakit, pestisida nabati berbahan alami dapat digunakan. Sebulan setelah tanam, ketika bawang daun mencapai tinggi 45–50 cm, semprotkan campuran berikut:
- 15 biji sirsak yang ditumbuk halus
- 100 gram parutan jahe
- 200 ml urine kelinci
Campuran ini dimasukkan ke dalam tangki semprot 14 liter dan ditambah air hingga penuh. Penyemprotan dilakukan sebulan sekali hingga tanaman menjelang panen pada usia empat bulan.
Alternatif lainnya adalah dengan fermentasi pupuk organik yang terdiri dari:
- 100 kg pupuk kotoran sapi atau kambing
- 0,5 kg tepung cangkang rajungan
Campuran ini difermentasi selama seminggu, lalu dicampur air hingga total volume mencapai 100 liter. Sebanyak 700 ml larutan ini dimasukkan ke dalam tangki semprot 14 liter, dicampur air hingga penuh, lalu disemprotkan ke daun dan tanah seminggu sekali pada pagi hari. Jika tanda-tanda penyakit muncul, frekuensi penyemprotan ditingkatkan menjadi dua kali seminggu.
Hasil Panen Daun Bawang yang Optimal
Dengan penerapan metode ini, Fariadi, seorang petani daun bawang, seperti dalam liputan yang dilakukan oleh Trubus.id berhasil meningkatkan produksi dan mengurangi serangan penyakit. Dari lahan seluas 1.000 m², ia mampu memanen hingga 3 ton bawang daun. Pestisida nabati yang ia gunakan juga terbukti efektif, dengan hanya 10% dari total 33.000 tanaman yang terserang penyakit.
Teknik budidaya ini menjadi solusi berkelanjutan bagi petani bawang daun untuk menghadapi tantangan musim hujan. Dengan pendekatan organik dan pemanfaatan pestisida nabati, petani dapat mempertahankan produktivitas sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
Penulis: Rahel Azzahra | Editor: Rahel Azzahra