Artikel

APLIKASI DIGITANI SEBAGAI TEMPAT CURHATNYA PETANI KE PAKAR IPB

tudey new
Berita / Siaran Pers

APLIKASI DIGITANI SEBAGAI TEMPAT CURHATNYA PETANI KE PAKAR IPB

“Aplikasi Digitani dapat menjadi wadah untuk tanya-jawab ketika kami, mahasiswa KKN, telah selesai bertugas di Desa Batursari.”

DIGITANI.IPB.AC.ID, BOGOR – Senin, 4 Juli 2022, mahasiswa KKN-T IPB Batursari, Wonosobo, melaksanakan sosialisasi program kerja bertajuk “Tanya Tani”. Sosialisasi dihadiri oleh perangkat desa dan perwakilan Gapoktan setiap dusun dan dukuh Batursari. Tujuan dari kegiatan ini untuk menghimpun pertanyaan petani dan menjawabnya berdasarkan hasil studi literatur serta pengenalan petani terhadap aplikasi Digitani yang dikembangkan oleh Tani Center IPB.

Konsep “Tanya Tani” muncul karena banyaknya masalah di lapang yang ditanyakan petani. Permasalahan yang dihadapi petani cukup beragam, seperti kondisi tanah yang semakin lama rusak, terlalu banyak penggunaan pupuk kimia, serangan jamur pada tanaman, dan buah busuk ketika akan dipanen. Berbagai usaha telah dilakukan petani dari penggunaan dosis pupuk kimia yang lebih banyak hingga mencoba memberikan obat manusia ke tanaman. Permasalahan tersebut terjadi berulang-ulang dan belum ditemukan penyelesaian pastinya. Mahasiswa KKN diminta untuk memberikan rekomendasi cara pencegahan dan penanganan yang baik.

Untuk meningkatkan kredibilitas solusi yang ditawarkan, tim KKN mencoba menjawab dari kajian literatur ataupun bertanya dengan dosen di IPB. Selain itu, mahasiswa IPB mengenalkan aplikasi Digitani untuk memperoleh pendapat dari Pakar IPB. Aplikasi yang dikembangkan Tani Center IPB ini memiliki 4 fitur interaktif untuk berkomunikasi antara petani dengan petani lain, tim ahli Tani Center IPB, dan Pakar dari IPB. Para petani dapat menggunakan fitur-fitur tersebut untuk berkonsultasi secara langsung dengan Pakar IPB ataupun melakukan diskusi antar sesama pengguna aplikasi.

Musthofa selaku penanggung jawab program “Tanya Tani” berharap dari aplikasi Digitani dapat menjadi kunci dari keberlanjutan program ini.

“Antusiasme petani untuk menyelesaikan masalah di desa itu tinggi. Namun, kami sebagai mahasiswa memiliki keterbatasan dalam pengetahuan lapang dan memiliki waktu yang terbatas di desa untuk menjawab semua pertanyaan petani. Aplikasi Digitani dapat menjadi wadah untuk tanya-jawab ketika kami, mahasiswa KKN, telah selesai bertugas di Desa Batursari,” ujarnya.

Dalam penerapannya, mahasiswa mengenalkan aplikasi Digitani, fitur-fitur yang dimiliki, dan pendampingan untuk mengunduh aplikasi Digitani secara langsung. Namun, terdapat sedikit kendala ketika mengunduh aplikasi karena keterbatasan gadget. Oleh karena itu, hanya sedikit petani yang dapat mengunduh aplikasi tersebut. Harapannya, petani yang telah mengunduh Digitani dapat menggunakan aplikasi Digitani sebaik-baiknya dan menyebarkan informasi pertanian dan pedesaan yang diperoleh kepada petani lainnya.

Aplikasi Digitani mendapatkan sambutan baik dari perwakilan-perwakilan Gapoktan Batursari. Pak Zazit selaku perwakilan Gapoktan Desa Batursari memberikan respon positif dengan adanya aplikasi tersebut.

“Bagus mas, kita bisa bertanya apa saja terkait kendala dalam bertani,” kata Perwakilan Gapoktan Desa Batursari ini.

Editor: Exciyona Adistika

Konsultasi

    X