PERALIHAN MUSIM DAN DAMPAKNYA TERHADAP PRODUKSI BAWANG MERAH

PERALIHAN MUSIM DAN DAMPAKNYA TERHADAP PRODUKSI BAWANG MERAH

Perubahan musim dari hujan ke kemarau membawa dampak positif bagi produksi bawang merah. Pada masa peralihan ini, hasil panen dapat meningkat secara signifikan dibandingkan saat musim hujan. Hal ini disebabkan oleh kondisi cuaca yang lebih bersahabat bagi pertumbuhan bawang merah, dengan curah hujan yang lebih sedikit dan intensitas cahaya matahari yang lebih tinggi.
Saat musim hujan, produksi bawang merah sering terhambat oleh serangan hama dan penyakit, seperti ulat grayak (Spodoptera exigua L) serta cendawan Alternaria porii yang menyebabkan bercak ungu. Tingkat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) pada musim hujan dapat menyebabkan kerugian yang signifikan. Namun, dengan pemberian nutrisi dan pestisida secara teratur, kegagalan panen dapat diminimalkan.
Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Budidaya Bawang Merah
Berdasarkan data dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), peluang terjadinya La-Niña mulai berkurang pada pertengahan tahun, namun masih ada potensi curah hujan tinggi hingga awal tahun berikutnya. Hal ini dapat meningkatkan risiko serangan OPT pada budidaya bawang merah.
Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang ditafsirkan oleh Tim Katam Balitklimat menunjukkan bahwa curah hujan pada awal tahun umumnya memiliki intensitas sedang (100—200 mm per bulan) dengan sifat hujan normal. Sementara itu, pada pertengahan hingga akhir tahun, curah hujan cenderung berada di atas normal. Petani bawang merah tetap harus waspada terhadap potensi serangan hama pada fase generatif tanaman.
Studi menunjukkan bahwa intensitas curah hujan dan jumlah hari hujan tidak terlalu berpengaruh terhadap produktivitas bawang merah. Namun, jumlah bulan kering memiliki korelasi positif terhadap hasil panen. Artinya, semakin panjang periode kering, semakin tinggi potensi produktivitas bawang merah.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa produksi bawang merah lebih tinggi pada musim kemarau dibandingkan musim hujan. Hal ini disebabkan oleh sifat bawang merah yang rentan membusuk pada kondisi curah hujan tinggi. Meskipun begitu, tanaman tetap membutuhkan ketersediaan air yang cukup agar pertumbuhannya optimal. Jika kekurangan air, pertumbuhan bawang merah dapat terhambat, dan tanaman menjadi kering.
Peralihan dari musim hujan ke musim kemarau terbukti membawa keuntungan bagi produksi bawang merah. Kondisi yang lebih stabil dan minim serangan hama membuat hasil panen lebih tinggi. Meski begitu, tetap diperlukan kewaspadaan terhadap potensi serangan hama dan penyakit yang dapat meningkat akibat perubahan iklim yang dinamis. Dengan pengelolaan lahan yang baik, pemberian nutrisi yang cukup, serta pengendalian OPT yang tepat, produksi bawang merah dapat terus dioptimalkan di berbagai kondisi cuaca.
Penulis: Rahel Azzahra | Penulis: Rahel Azzahra