Artikel

JANGAN SALAH TAKAR! BEGINI CARA MEMBUAT PUPUK KOHE DENGAN EM4 YANG BENAR

JANGAN SALAH TAKAR! BEGINI CARA MEMBUAT PUPUK KOHE DENGAN EM4 YANG BENAR
Artikel Konsultasi / Pertanian

JANGAN SALAH TAKAR! BEGINI CARA MEMBUAT PUPUK KOHE DENGAN EM4 YANG BENAR

Loading

Pertanyaan:  

Selamat pagi bapak/ibu. Perkenalkan saya zalfa nur zahira mahasiswi yang sedang melaksanakan kkn di desa kacangan, bojonegoro. Saya izin bertanya mengenai bagaimana cara yang baik dan benar pembuatan pupuk menggunakan kohe sapi/kambing dengan bantuan EM4 dikarenakan saya masih merasa bingung. Saya telah menonton yt dan membaca jurnal, ada sumber yang mengatakan perbandingan EM4, Molase dan Air yaitu 1:1:18 tapi ada juga sumber yang mengatakan 1:1:100. Tapi kebanyakan sumber juga tidak menjelaskan berapa banyak kotoran sapi/kambing yang digunakan untuk takaran tersebut. Sehingga pertanyaan saya adalah : 1. Berapa takaran/komposisi yang tepat untuk perbandingan EM4, Molase dan Air? Bisakah diberikan contoh? Apakah takaran untuk EM4 dan Molase bisa menggunakan tutup botol? 2. Berapa kg kotoran sapi/kambing yang digunakan berdasarkan takaran yang bapak/ibu rekomendasikan? Sekian pertanyaan dari saya, mohon arahan dan pencerahan dari bapak/ibu Atas perhatiannya saya ucapkan Terima Kasih.

(Zalfa Nur Zahira)

Jawaban:  

Halo, Sobat Tani.

Pupuk organik dari kotoran sapi atau kambing (kohe) menjadi salah satu alternatif pupuk yang banyak digunakan petani karena mampu memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan kandungan bahan organik. Dalam proses pembuatannya, banyak petani maupun mahasiswa sering merasa bingung mengenai takaran penggunaan EM4, molase, dan air yang tepat agar fermentasi berhasil dengan baik.

EM4 sendiri sebenarnya bukan pupuk, melainkan kumpulan mikroorganisme efektif yang berfungsi membantu mempercepat proses fermentasi bahan organik. Agar mikroba di dalam EM4 dapat bekerja optimal, diperlukan sumber energi berupa molase atau gula merah cair, serta air sebagai media hidup mikroorganisme tersebut. Karena itu, komposisi antara EM4, molase, air, dan jumlah kotoran ternak harus seimbang.

Secara umum, perbandingan yang paling banyak direkomendasikan untuk fermentasi pupuk padat adalah 1:1:100, yaitu 1 bagian EM4, 1 bagian molase, dan 100 bagian air. Rasio ini dinilai lebih aman dan stabil untuk fermentasi kotoran ternak dibandingkan perbandingan yang lebih pekat seperti 1:1:18 yang biasanya digunakan untuk aktivasi EM4 pada bahan cair atau skala kecil.

Sebagai contoh, jika menggunakan 100 kg kotoran sapi atau kambing, maka larutan aktivator yang dibutuhkan terdiri atas:

  • 100 mL EM4
  • 100 mL molase atau gula merah cair
  • 10 liter air bersih

Seluruh bahan cair dicampurkan hingga homogen, kemudian disiramkan secara merata ke kotoran ternak sambil diaduk hingga lembap merata. Untuk memudahkan pengukuran, EM4 dan molase dapat menggunakan tutup botol air mineral sebagai takaran praktis. Satu tutup botol umumnya setara sekitar 5 mL, sehingga 100 mL membutuhkan kurang lebih 20 tutup botol.

Kebutuhan EM4 dan molase juga dapat dihitung berdasarkan jumlah bahan organik yang digunakan. Secara umum, dosis yang dianjurkan adalah sekitar 1 mL EM4 dan 1 mL molase untuk setiap 1 kg kotoran ternak, dengan tambahan air sekitar 100 mL per kilogram bahan. Artinya:

  • 20 kg kohe → 20 mL EM4 + 20 mL molase + 2 liter air
  • 50 kg kohe → 50 mL EM4 + 50 mL molase + 5 liter air
  • 1 ton kohe → 1 liter EM4 + 1 liter molase + 100 liter air

Dalam proses fermentasi, kondisi kotoran ternak sebaiknya setengah kering, tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. Setelah larutan aktivator dicampurkan, kelembapan dapat dicek dengan cara digenggam. Jika bahan menggumpal tetapi tidak mengeluarkan air, maka kondisi sudah ideal untuk fermentasi.

Selanjutnya, bahan ditutup menggunakan terpal atau karung plastik dan difermentasi selama 14–21 hari. Selama proses tersebut, pupuk perlu dibalik setiap 3–5 hari agar suhu dan aerasi tetap stabil. Fermentasi yang berhasil biasanya ditandai dengan bau yang tidak menyengat, melainkan menyerupai bau tanah atau tape, tekstur lebih remah, dan suhu hangat namun tidak terlalu panas.

Sebaliknya, jika muncul bau amonia atau busuk menyengat, hal itu biasanya disebabkan oleh kelembapan yang terlalu tinggi, kurang aerasi, atau dosis EM4 yang tidak sesuai. Oleh karena itu, keseimbangan komposisi dan pengadukan rutin menjadi kunci utama keberhasilan pembuatan pupuk organik fermentasi.

Dengan penggunaan takaran yang tepat, pupuk organik berbahan kotoran sapi atau kambing dapat dihasilkan secara lebih efektif, aman, dan berkualitas sehingga mampu membantu meningkatkan kesuburan tanah secara berkelanjutan.

Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh: Dr. Fitrianingrum Kurniawati, S.P., M.Si. | Editor: Muhammad Yudistira

Tanya Pakar

powered by Advanced iFrame