Artikel

PROTEIN BESAR SERANGGA SEBAGAI PAKAN TERNAK UNGGAS

Kumpulan serangga jankrik, Sumber: iStock - credit: Amnat Jomjun
Artikel / Nutrisi dan Pakan Ternak / Peternakan

PROTEIN BESAR SERANGGA SEBAGAI PAKAN TERNAK UNGGAS

Loading

Di tengah meningkatnya kebutuhan protein hewani dan tekanan terhadap lingkungan, dunia peternakan mulai melirik sumber pakan alternatif yang lebih berkelanjutan. Salah satu inovasi yang kini banyak dibahas adalah protein berbasis serangga sebagai bahan pakan unggas. Meski terdengar tidak biasa, serangga justru menyimpan potensi besar untuk meningkatkan nutrisi unggas sekaligus menekan dampak lingkungan dan biaya produksi.

Keunggulan Serangga sebagai Pakan Ternak
Serangga diketahui mengandung protein dan mineral penting dalam jumlah tinggi. Tingkat kecernaannya pun tinggi, artinya nutrisi dalam serangga dapat digunakan secara optimal oleh unggas sebagai sumber energi. Dibandingkan sumber protein konvensional seperti bungkil kedelai dan tepung ikan, protein serangga memiliki sejumlah keunggulan signifikan, terutama dari sisi lingkungan.

Produksi serangga menghasilkan emisi gas rumah kaca yang jauh lebih rendah, serta tidak membutuhkan lahan dan air yang besar. Bahkan, banyak serangga dapat dibudidayakan menggunakan limbah organik, sehingga secara langsung dapat menjaga lingkungan. Menariknya lagi, unggas secara alami memang pemakan serangga di alam bebas. Oleh karena itu, penambahan serangga dalam pakan tidak hanya aman, tetapi juga terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan, menghemat biaya, menambah kualitas daging, serta menyediakan sumber nutrisi penting.

Jenis Serangga yang dapat Dijadikan Pakan Ternak
Hingga saat ini, peneliti telah mengidentifikasi 13 jenis serangga yang berpotensi digunakan sebagai pakan unggas. Delapan di antaranya bahkan telah disetujui oleh regulasi Uni Eropa untuk digunakan sebagai bahan pangan dan pakan. Berdasarkan penelitian, serangga seperti lalat, ulat hongkong, kumbang, belalang, ulat sutera, hingga kecoa mulai mendapat perhatian sebagai sumber protein alternatif.

Dari sisi kandungan nutrisi, serangga menunjukkan variasi yang menarik. Lalat rumah, misalnya, mengandung sekitar 45 persen protein dan 19 persen lemak, menjadikannya sumber protein yang menjanjikan. Cacing tanah dan ulat sutera bahkan memiliki kadar protein sangat tinggi, masing-masing 63 persen dan 75 persen, dengan kandungan lemak dan serat yang rendah. Kandungan protein pada serangga-serangga tersebut mendekati bahkan melewati tepung ikan yang mengandung sekitar 65 persen protein. Angka-angka ini menunjukkan bahwa serangga mampu bersaing dengan sumber protein yang umum digunakan.

Respon Unggas terhadap Pakan Serangga
Ayam muda yang dalam masa pertumbuhan cenderung menyukai pakan berprotein tinggi. Sementara itu, unggas yang sengaja diarahkan untuk menimbun lemak lebih memilih perbandingan protein-energi yang lebih rendah. Pada ayam petelur, penggunaan pakan berbasis serangga menunjukkan hasil yang beragam. Beberapa penelitian mencatat penurunan ketebalan cangkang telur, tetapi banyak pula yang tidak menemukan dampak negatif signifikan. Bahkan, beberapa jenis pakan serangga justru meningkatkan warna kuning telur dan menurunkan kadar kolesterol telur.

Meski potensinya besar, protein serangga masih menghadapi tantangan, mulai dari teknologi produksi skala besar, efisiensi biaya, perbedaan regulasi antarnegara, hingga penerimaan konsumen yang dipengaruhi faktor budaya dan psikologis. Oleh karena itu, riset dan pengembangan terus dibutuhkan untuk menjamin keamanan, kualitas, dan keberlanjutan pakan serangga dalam sistem peternakan unggas.

Dengan pendekatan yang tepat, protein dari serangga berpeluang menjadi kunci penting menuju peternakan unggas yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan di masa depan.

Penulis: Syifa Marsyaputri Alimudin | Editor:  Juan Febrian Panggabean

Tanya Pakar

powered by Advanced iFrame