Artikel

MENGULIK TIGA ISU UTAMA PRESIDENSI G20 PERTANIAN

BC_G201
Berita

MENGULIK TIGA ISU UTAMA PRESIDENSI G20 PERTANIAN

Halo Sobat Tani! Sobat Tani pasti sudah mendengar bahwa G20 akan dilaksanakan di Indonesia. G20 sebagai forum kerja sama multilateral dari 19 negara dan 1 lembaga Uni Eropa dibentuk dengan tujuan mendiskusikan kebijakan-kebijakan dalam rangka mewujudkan stabilitas keuangan internasional. KTT G20 ke-17 ini rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 15-16 November 2022, tepatnya di Bali. Dengan mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger”, Indonesia mengajak masyarakat dan dunia untuk saling mendukung dan bangkit menjadi lebih kuat bersama-sama dalam pemulihan pascapandemi.

Mengawali rangkaian Presidensi G20 tahun 2022, Kementerian Pertanian selaku focal point Agriculture Working Group (AWG) G20 melaksanakan Agriculture Deputies Meeting (ADM) ke-1 pada tanggal 30-31 Maret 2022 secara hybrid di Bogor, Jawa Barat. Kasdi Subagyono, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian sebagai Ketua Delegasi RI, menjelaskan tiga isu prioritas yang akan dibawa dalam Agriculture Working Group (AWG). Tiga isu tersebut yaitu:

  1. Membangun sistem pertanian dan pangan yang tangguh dan berkelanjutan.
  2. Mempromosikan perdagangan pangan yang terbuka, adil, dapat diprediksi, dan transparan.
  3. Mendorong inovasi agripreneurship melalui pertanian digital untuk meningkatkan taraf hidup petani di pedesaan.

Ketiga isu tersebut terangkum dalam satu tema besar yaitu Balancing Production and Treat Fulfill Food for All. Tema tersebut diusung untuk memastikan jaminan pasokan pangan nasional dari sumber pertanian dalam negeri, jaminan kelancaran perdagangan pangan, dan pertanian lintas batas negara untuk mencukupi kecukupan pangan bagi semua negara.

Sektor pertanian menjadi salah satu pilar utama dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi, utamanya melalui ketersediaan, keterjangkauan, keamanan dan kualitas pangan. Pandemi COVID-19 dan isu perubahan iklim mengakibatkan ketidakseimbangan pangan global sehingga muncul berbagai krisis, seperti krisis pangan hingga kemiskinan.

“Hari ini kita dihajar oleh perubahan iklim yang menjauhkan kita dari tujuan pembangunan berkelanjutan seperti pengentasan kelaparan dan kemiskinan, karena itu ketahanan pangan harus menjadi isu utama dalam G20,” ujar Menteri Pertanian Syahrul  Yasin Limpo, dilansir dari Media Indonesia.

Pemerintah terus mendukung dan mendorong ketahanan pangan nasional dengan tetap memperhatikan kesejahteraan petani dalam menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen. Upaya diversifikasi pangan, implementasi climate-smart agriculture, dukungan dan kemitraan dalam membangun kapasitas digital terutama untuk petani kecil merupakan usaha pemerintah dalam mendorong peningkatan sektor pertanian.

“Perlu dilakukan pertukaran teknologi dalam sektor pertanian melalui employee exchange antar negara G20 dan kerja sama penelitian. Selain itu, kerja sama transaksi perdagangan juga dilakukan dengan mempermudah izin ekspor, baik untuk UMKM maupun produk pertanian sebagai gateway dan kerja sama bilateral yang dapat memfasilitasi berbagai keringanan fiskal,” ucap Menko Airlangga, dilansir dari siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.

Presidensi G20 menjadi momentum krusial dalam mewujudkan ketahahanan pangan dan gizi masyarakat global dengan membangun sistem pangan dan pertanian yang tangguh dan berkelanjutan. Komitmen dan kerja sama antara negara-negara G20 dalam mewujudkan ketahanan pangan dan gizi menjadi sebuah langkah masif dalam mewujudkan pemulihan dan pembangunan ekonomi dunia.

Penulis: Sopha Erna Ariyana | Editor: Exciyona Adistika

Konsultasi

    X