BAGAIMANA CARA MENGENDALIKAN HAMA SECARA ALAMI DI MUSIM HUJAN AGAR LARUTAN PESTISIDA TIDAK MUDAH LURUH?
BAGAIMANA CARA MENGENDALIKAN HAMA SECARA ALAMI DI MUSIM HUJAN AGAR LARUTAN PESTISIDA TIDAK MUDAH LURUH?
![]()
Pertanyaan :
Pengendalian hama di musim hujan. Di wilayah kami, Jombang, beberapa hari ini hujan turun terus-menerus dan cukup deras. Kondisi seperti ini membuat tanaman kami sering diserang hama, baik yang terlihat seperti ulat dan kutu, maupun yang tidak terlihat seperti jamur atau penyakit dari tanah. Saya ingin tahu, bagaimana cara mengendalikan hama secara alami di musim hujan seperti ini? Kalau bisa, mohon rekomendasi bahan-bahan pestisida nabati yang bisa digunakan, terutama yang bisa bertahan meskipun terkena hujan. Saya juga ingin tahu, apakah ada bahan alami yang bisa membantu supaya larutan pestisida itu bisa lebih menempel di tanaman dan tidak mudah hilang saat hujan turun.
(Mohammad Roikhul Fatahillah)
Jawaban :
Prinsip pengendalian hama di musim hujan
Musim hujan seperti di Jombang saat ini seringkali membuat tanaman dan tanah dalam kondisi sering basah, sehingga Ketika tanaman dan tanah sering basah maka kondisi menjadi lembab dan kondisi tersebut sesuai untuk cendawan, bakteri, nematoda (bercak daun, busuk batang, busuk akar)
Jadi strateginya jangan hanya mengandalkan semprot pestisida saja, namun harus dengan pengendalian terintegrasi seperti:
- Melakukan perbaikan aerasi & drainase (buat parit kecil di antara bedengan supaya air cepat keluar, tinggikan bedengan kalau bisa, terutama untuk sayuran (cabai, bawang, dll).
- Kurangi kelembapan di tajuk (pangkas daun yang terlalu rimbun / buang daun yang bergejala).
- Jangan tanam terlalu rapat.
- Sanitasi rutin (kumpulkan daun/buah sakit lalu dikubur atau dikompos terpisah (jangan dibiarkan di lahan) atau dibuang jauh dari lahan, musnahkan agar tidak menjadi sumber inokulum.
Jika mau menggunakan pestisida nabati ditambah perekat alami (lihat nomor 3).
Spektrumnya agak luas (bisa untuk ulat + kutu)
Mengandung senyawa yang relatif “kuat” seperti saponin, minyak atsiri, alkaloid
Beberapa contoh yang mudah ditemukan di desa-desa Jawa Timur:
a. Daun/biji mimba (nimba / neem)
Bagian dipakai: daun tua atau biji.
Kegunaan: menekan ulat, kutu-kutuan, penghisap, sebagian kumbang.
Sifat: lebih ke penolak & penggangu makan, bukan “langsung mati” seperti insektisida kimia sintetik.
Cara sederhana (daun mimba):
Daun mimba segar ± 1 kg
Ditumbuk / diblender kasar, rendam dalam 10 L air semalaman (12 jam), saring → tambahkan perekat (lihat bagian 3), Semprot sore hari.
b. Daun sirsak / biji sirsak
Bagian dipakai: daun tua & biji.
Kegunaan: ulat, kutu-kutuan, beberapa serangga penggigit pengunyah.
Cara:
Daun sirsak 1 kg, bisa dicampur biji ± 100–200 g (dihaluskan).
Rendam dalam 10 L air selama 12–24 jam.
Saring, beri perekat, semprot.
Semua larutan nabati lebih mudah tercuci hujan dibanding pestisida kimia, jadi kuncinya: frekuensi lebih sering + waktu semprot yang tepat + perekat.
Bahan alami sebagai perekat/perata (sticker–spreader)
Supaya larutan nabati lebih “nempel” dan tidak cepat luntur dapat ditambahkan:
a. Air sabun
Gunakan sabun cuci piring/lembut ± 1–2 sendok makan per 15 L air. (Jangan berlebihan, karena terlalu banyak sabun bisa mengiritasi daun)
b. Minyak nabati + sedikit sabun
Contoh: minyak kelapa, minyak sawit, minyak jelantah yang masih bersih (disaring baik-baik).
Campur:
Minyak nabati ± 20–30 ml
Sabun cair ± 10 ml
Air ± 1 L, dikocok kuat-kuat sampai jadi emulsi putih.
Ambil ± 50–100 ml emulsi ini untuk dicampurkan ke 10 L larutan pestisida nabati.
Minyak membantu larutan lebih menempel di permukaan daun dan tubuh serangga.
c. Lerak / buah rerek (kalau ada)
Buah lerak mengandung saponin (sifat mirip sabun alami)
Ditumbuk, direndam, airnya dipakai sebagai campuran perekat alami.
Tips praktis penyemprotan di musim hujan
Lakukan pada pagi atau sore hari saat cuaca cerah dan tidak berangin, tambahkan bahan perekat pada larutan untuk membantu pestisida menempel, serta semprot secara merata hingga ke bagian bawah daun. Pastikan juga untuk menyemprot sesuai dosis anjuran agar hasilnya maksimal.
Semoga bermanfaat.
Dijawab oleh pakar, Dr. Fitrianingrum Kurniawati, S.P., M.Si. I Editor : Furqon Sidiq